www.gudeg.net, Yogyakarta - Amin Taasha, seorang seniman dari Afghanistan yang kini berdomisili di Yogyakarta, menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk “Iron Cocoon”. Pembukaan pameran diadakan di Galeri Fadjar Sidik, Institut Seni Indonesia, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon, Bantul sore ini (22/5) pukul 17.00 WIB.
Selain di Indonesia, Amin rutin memamerkan karyanya di berbagai negara seperti negara asalnya Afghanistan, Iran, Bangladesh, Lebanon, US, Canada, Jerman dan Italia selama sepuluh tahun terakhir. Pameran ini adalah pameran tunggal kedua Amin, yang juga pameran tunggal pertamanya di Indonesia.
Di samping lukisan-lukisan yang dipajang, disediakan sebuah headphone untuk pengunjung. Masing-masing karya memiliki audio yang berbeda sehingga pengalaman menikmati karya menjadi unik.
Tak semua karya ada di dinding. Ada pula karya yang terletak di lantai galeri. Karya ini merupakan karya video yang diproyeksikan dari langit-langit galeri. Selain lukisan, audio dan video, ada pula beberapa instalasi dan tulisan.
Suwarno Wisetrotomo dalam tulisannya menceritakan sekelumit tentang pengalaman-pengalaman hidup Amin, antara lain tumbuh di Afganistan yang penuh tegangan. Pengalaman itu menurut Suwarno tak menjadikan Amin menjadi pemberang, dan menjadikan karyanya sebagai ekspresi kemarahan. Sebaliknya, menurut Suwarno, Amin menyodorkan kelembutan jiwa dari sapuan dan pilihan warnanya.
“Sapuan warna kehitaman mencitrakan panorama, warna-warna keemasan dihasratkan Amin sebagai narasi terkait penghayatan terhadap hidup dan kehidupannya, yang bertolak dari pengalaman mengalami,” kata Suwarno.
Mikke Susanto, seorang kurator yang juga menyertakan tulisannya dalam pameran ini dalam sambutannya mengatakan ada karya-karya yang dipamerkan terdiri dari banyak ragam kebudayaan.
“Saya lebih senang menyimpulkan bahwa Amin memiliki karakter Asia yang sangat kental,” ucapnya saat pembukaan. Karakter itu menurutnya ditumpahkan Amin dalam ciri khas Tiongkok seperti tinta cina yang digunakan Amin dan juga warna emas yang banyak hadir dalam karya-karyanya.
Lukisan yang dipamerkan ada yang berukuran besar dan kecil. “Itu menandai peradaban timur tengah yang sangat klasik, yakni munculnya lukisan miniatur," ucapnya mengenai lukisan-lukisan kecil.
Pameran ini berlangsung hingga 7 Juni 2018, dan akan diadakan artist tour pada 25 Mei dan 5 Juni 2018 mendatang.



Kirim Komentar