Gudeg.net – Guguran awan panas kembali terjadi di Puncak Merapi hari ini, Selasa (19/2) di puncak gunung Merapi. Awan panas turun pada pukul 17.24 WIB dengan durasi 98 detik dengan jarak luncur sejauh 900 meter ke arah Kali gendol. Visual tidak terlihat karena cuaca hujan dan berkabut. Laporan ini disampaikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melalui media center Pusdalops DIY (19/3).
Volcanic Activity Report (Laporan Aktivitas Gunung Berapi) periode pengamatan pukul 12.00-18.00 WIB hari ini (19/3) yang ditulis oleh Heru Suparwaka dari Magma Indonesia (magma.vsi.esdm.go.id) menunjukkan hasil sebagai berikut.
Dalam data kegempaan dilaporkan terjadi satu kali awan panas guguran, gempa guguran lima kali (Amplitudo : 4-35 mm, Durasi : 21-99 detik), gempa low frequency dua kali (Amplitudo : 4-5 mm, Durasi : 16-17 detik).
Gempa hybrid atau fase banyak terjadi sebanyak satu kali (Amplitudo : 4 mm, S-P : 0.6 detik, Durasi : 13.4 detik), dan gempa tektonik jauh sebanyak dua kali (Amplitudo : 7-14 mm, S-P : 23.5-39.8 detik, Durasi : 89-178 detik).
Laporan meteorologi menunjukkan bahwa cuaca mendung dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, dan barat daya, dan barat. Suhu udara 16-22.4 °C, kelembaban udara 22.4-98 %, dan tekanan udara 835-942.9 mmHg. Volume curah hujan 63 mm per hari.
Status masih belum beranjak dari ‘waspada’. Kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian, pendakian tidak direkomendasikan. Radius 3 km dari puncak pun masih disterilkan dari aktivitas.
“Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi,” tulis Heru dalam laporannya (19/3).
Berhubungan dengan kejadian awan panas yang sudah turun beberapa kali, masyarakat yang berdomisili di sekitar Kali gendol diharapkan untuk waspada dan mengamati kegiatan Gunung Merapi. Masyarakat juga diharapkan untuk bijak, dan tidak terpancing isu-isu yang asalnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.



Kirim Komentar