Gudeg.net - Yogya Art Lab, Gajah Gallery menggelar pameran kelompok bertajuk Diverting Politics of Re(presentation). Berpartisipasi dalam pameran ini 9 seniman Indonesia dan 2 seniman Taiwan.
Seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain Agan Harahap (Yogyakarta), Chia-Wei Hsu (Taipei), Cheng-Ta Yu (Taipei), Cut and Rescue (Jakarta), Dagingtumbuh (Yogyakarta), Indieguerillas (Yogyakarta), Jim Allen Abel (Yogyakarta), Salima Hakim (Jakarta), Uji ’Hahan’ Handoko (Yogyakarta), Vendy Methodos (Yogyakarta), dan Yovista Ahtajida (Jakarta).
Dalam keterangan tertulis, Gajah Galeri menjelaskan, melalui beragam media, para seniman menyoroti retorika yang humoris untuk mengkritisi dan menyusun ulang narasi besar dan politik representasi.
Lebih lanjut diterangkan, Diverting Politics of (Re) Presentation yang dalam Bahasa Indonesia berarti Membelokkan Politik Re(Presentasi), di satu sisi menunjukkan aksi berbelok arah, sementara di sisi lain dapat berarti menghibur (divertissement).
“Dalam tafsir ganda tersebut, pameran ini mencoba memeriksa bagaimana narasi sejarah, serta subjek dan agensi politik diinterupsi, ditafsirkan ulang, dan dilihat dari sudut pandang berbeda, sambil membicarakan konten yang kocak dan menghibur,” terang Gajah Gallery.
Di dua lantai gallery, terdapat karya-karya dengan beragam media. Selain lukisan, ada karya yang hadir dalam bentuk audio visual.
Salah satu karya yang berjudul “Indonesian Heroes (Series)”, karya Jim Allen Abel memajang sosok-sosok pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hassanudin, Kapten Pattimura dan Sri Sisingamangaraja XII.
Dalam deskripsi karya diterangkan, seri foto ini berangkat dari kenangan sang seniman akan lukisan pahlawan-pahlawan Indonesia yang terpajang di ruang kelas dalam bentuk cetakan digital.
Seniman membuat potret dirinya sendiri menggunakan karakteristik yang ditemukan dalam gambar resmi yang dipromosikan oleh pemerintah dan berdasar pada penelitian selanjutnya.
Lebih lanjut diterangkan, dengan memajang potret tersebut seniman tidak hanya mempertanyakan fungsi dan kuasa atas gambar sebelum penggunaan kamera fotografi, tetapi juga mengintervensi pada sejarah yang sembarangan (ngawur) untuk mempertanyakan politik pembuatan gambar dari kebenaran dan representasi nasional.
Salah satu karya lain bertajuk “Black and White-Giant Panda” karya Chia-Wei Hsu hadir dalam bentuk single channel video.
Karya ini menceritakan tentang seekor panda yang digunakan sebagai titik masuk dan bertindak sebagai penghubung antara politik, sejarah, hewan, manusia, maupun yang bukan manusia, untuk menceritakan diplomasi panda.
Yogya Art Lab berlokasi di Jalan Bugisan Selatan, Komplek Pertokoan Aruna, Keloran, Senggotan, Bantul. Pameran masih berlangsung hingga 2 Juni 2019. Dari Senin hingga Jumat pameran buka jam 10.00 hingga 17.00, sedangkan Sabtu dan Minggu dan hari libur pukul 10.00 hingga 16.00.




Kirim Komentar