Gudegnet - Berbagai potensi kesenian dan budaya memeriahkan acara Pasar Rakyat Kampung Terban yang digelar di Pasar Terban, Sabtu (13/7). Salah satu agenda Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019 ini menyuguhkan berbagai potensi kesenian dan budaya dari warga.
Acara diselenggarakan mulai sore hari. Diawali dengan kirab Bregodo Purbonegoro, tampil kemudian jathilan, hadroh, keroncong, tari, hingga macapat.
Penampilan ketoprak difabel netra Distra Budaya (Disabilitas Tuna Netra Nguri-uri Budaya) milik Yayasan Mardi Wuto memungkasi acara.
Para pemain ketoprak tampil dengan apik. Di tengah jalannya pentas, sesekali panitia mengarahkan posisi para pemain agar lebih pas.
Dalam penampilannya, kelompok ini juga bermain musik dengan alat-alat seperti alu dan lesung padi, kendang dan juga gendang paralon.
“Kami menampilkan lakon berjudul Lambang Sari Edan. Cerita ini mengenai seseorang yang ingin merebut istri seorang penguasa. Inspirasi cerita ini saya dapatkan dari kisah Kerajaan Kediri,” ucap Getir, penggagas lakon dalam keterangan pers yang diterima GudegNet, Selasa (16/7).
Penampilan Ketoprak Distra Budaya ini menarik perhatian penonton. Penonton yang tadinya menyaksikan dari sisi pasar, kemudian merapat ke panggung untuk menyaksikan penampilan tersebut.
Sebagai informasi, Distra Budaya didirikan pada tahun 2002 atas prakarsa Harjito. Kelompok ini beranggotakan difabel netra dari lima penjuru Provinsi DIY.
Selain penampilan kesenian dan budaya, Pasar Rakyat Kampung Terban juga dimeriahkan oleh stand kuliner dari perwakilan 12 RW di Kelurahan Terban.
Paksi Raras Alit, ketua FKY 2019 dalam sambutannya mengungkapkan, Kampung Terban dipilih dalam gelaran ini karena kampung ini dinilai paling siap dengan potensi kesenian dan budayanya. Selain itu, kampung ini merupakan kampung budaya di tengah kota.
“Harapannya, FKY 2019 dapat menjadi ruang untuk memaksimalkan potensi seni dan budaya, khususnya untuk warga Terban,” ucap Paksi.




Kirim Komentar