Gudeg.net - Keraton Yogyakarta melangsungkan prosesi Numplak Wajik di Kompleks Magangan, Keraton pada Kamis (7/11) sore. Numplak Wajik adalah prosesi menumpahkan wajik di badan bakal calon gunungan yang akan dibagikan saat Garebeg Mulud pada Minggu (10/11).
Rinta Iswara, Abdi Dalem KHP Widyo Budoyo mengatakan, Numplak Wajik selalu diadakan H-3 garebeg, baik Garebeg Mulud, Garebeg Syawal maupun Grebeg Besar.
“Secara harafiah, Numplak Wajik artinya wajiknya ditumplak. Yang tadinya menghadap ke atas sekarang dituangkan ke bawah. Ini sebagai awal membuat gunungan,” papar Rinta usai prosesi Numplak Wajik di Magangan, Keraton Yogyakarta, Kamis (7/11).
Gunungan yang dibuat pertama kali dalam prosesi ini adalah Gunungan Wadon. Irama gejog lesung yang dimainkan Abdi Dalem Keparak mengiringi prosesi sore ini.
Menurut Rinta, prosesi gejok lesung dilangsungkan sebagai pelestari budaya. Sebelum keluarga Jawa mempunyai gawe atau hajat, diadakan upacara gejok lesung.
“Artinya secara lahir membuat tepung dari beras untuk membuat kue. Juga menolak roh-roh jahat atau hal-hal negatif, silakan menjauh dari tempat atau rumah, dalam hal ini keraton menyelenggarakan acara garebeg,” katanya.
Ia menambahkan, setiap garebeg, keraton mengeluarkan 5 macam gunungan baku yakni Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Darat, dan Pawohan yang akan dibawa ke Masjid Gede.
“Kemudian ada tambahan satu Gunungan Kakung dibawa ke kepatihan, satu Gunungan Kakung lagi dibawa atau diserahkan ke Pakualaman. Sehingga totalnya setiap garebeg keraton membuat 7 gunungan,” ucapnya.
Garebeg Mulud merupakan bagian dari Hajad Dalem Sekaten. Rangkaian hajad Dalem Sekaten antara lain Miyos Gongso, ditabuhnya gamelan sekati, pengajian, pembacaan riwayat nabi, Kondur Gongso dan Garebeg Mulud.
Tahun ini Keraton Yogyakarta menggelar Pameran Sekaten pada 1-9 November 2019. Rangkaian pameran diisi dengan pameran koleksi, wosrkshop, pelatihan seni, diskusi film, dan perlombaan karawitan.




Kirim Komentar