Gudeg.net- Di tengah sepinya lalu lalang kendaraan, empat orang seniman yang tergabung dalam Komunitas Gayam 16 melakukan aksi tabuh gong tepat di simpang empat Titik Nol Yogyakarta, Minggu (5/4).
Aksi menabuh gong yang bertajuk Gaung Gong tersebut bertujuan untuk merespon situasi masyarakat terhadap situasi sosial yang terjadi saat ini.
Inisiator Gaung Gong Ari Wulu mengatakan, kegiatan ini merupakan sebuah pesan kepada masyarakat Yogyakarta agar dapat menyikapi keadaan saat ini.
“Ini adalah reaksi atas kondisi sosial hari ini akibat pandemik Covid-19. Lebih menekankan ke manusianya dari pada virus itu sendiri,” ujar Ari Wulu saat dikonfirmasi, Seni (5/4).
Ari menjelaskan, masyarakat Yogyakarta terkenal dengan guyub, rukun namun dengan adanya pandemic corona ini memaksa kita untuk saling menjaga jarak.

“Menjaga jarak akan tetapi jangan sampai memutus keguyuban atau kebersamaan kita dalam bersosial. Gaung Gong menyatukan kita dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan utk selalu berpikir positif,” jelasnya.
Gaung Gong dilakukan dalam dua sesi yaitu pagi hari pukul 06.00 dan 18.00 WIB di lokasi yang sama.
Titik Nol dipilih sebagai titik pusat atau titik Pancer untuk terpancar ke empat penjuru arah mata angina. Ini menggambarkan Sedulur Papat Lima Pancer, dilambangkan dengan Pancaksara.
Gong adalah simbol dari Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung sebagai puncak perayaan dari penyatuan Dasaksara.
Gong juga ditabuh berbarengan di empat penjuru angin Utara, Selatan, Barat, Timur dan Tengah.
Selain pemukulan gong, dibacakan juga mantra-mantra berbahasa Jawa yang syarat akan makna terkait situasi sosial yang terjadi di masyarakat saat ini.

Inisiator II Gaung Gong Santi Ariestyowanti mengungkapkan, pembacaan mantra bertujuan untuk membangkitkan kesadaran bersama untuk dapat menghadapi keadaan saat ini.
“Dengan berfikir positif akan berpengaruh pada kondisi kesehatan secara holistik, vibrasi tinggi, dan membangkitkan mood bagus. Harapannya meningkatkan imun semakin bagus,” ungkap Santi Ariestyowanti.
Santi menuturkan, Gaung Gong dan mantra ini akan bekerja sebagai pembawa pesan kepada masyarakat lebih luas untuk dapat menjaga jiwa dan terus berfikiran positif.
“Semakin banyak yang menjaga kondisi maka secara holistik imun kita akan semakin bagus. Dan akan berdampak baik bagi kondisi warga dan lingkungannya,” tuturnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pembangkit semangat pada seluruh masyarakat dan para seniman untuk dapat bangkit bersama.

“Pandemi ini membuat waktu untuk berhenti sejenak, berbenah, dan kemudian memulai lagi. Maka teruslah bergerak dengan gagah berani demi masa depan yag lebih baik,” harap Ari Wulu.
Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah seniman Yogyakarta seperti Ki Catur Kuncoro, Bambang Paningron, Paksi Raras dan lainnya.




Kirim Komentar