Gudeg.net- Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk dapat terhindar dari penyebaran virus corona dari penggunaan masker medis hingga masker kain.
Namun lain hal yang dilakukan oleh Ali Akbar (52 tahun) seorang sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) di Jalan Taman Siswa Yogyakarta.
Ali memanfaatkan wadah bekas air mineral (galon) berukuran besar yang disulap menjadi pelindung wajahnya ketika bekerja.
“Sebenarnya ini fungsinya hampir sama dengan helm, karena ukurannya besar. Selain melindungi wajah dari corona, dapat juga meliindungi kepala dari panas matahari,” ujar Ali Akbar saat ditemui GudegNet di Tamansiswa Yogyakarta, Kamis (16/4).

Ali mengutarakan, saat mendapatkan galon bekas tersebut dirinya langsung terfikir untuk memodifikasi menjadi pelindung kepala. Bagian bawah galon dipotong seukuran kepala dan diberi lubang kecil untuk memasukan keran udara.
“Idenya lihat dari tim medis memakai APD kepala tapi saya modif dan diberi keran kecil itu untuk ventilasi udara ketika saya sudah merasakan sumuk (panas) di dalam galon ini,” jelasnya.
Ali beranggapan helm galon tersebut lebih nyaman ia pakai dari pada harus membeli masker medis atau kain untuk bekerja.
“Kalau pake masker saya ga betah mas, terus harus ganti dan beli lagi. Kalau dengan helm galon ini, saya hanya buat sekali dan dipakai seterusnya, toh hanya saya yang pakai,” tutur pria warga Gondolayu, Kota Yogyakarta itu.

Ali menjelaskan, helm galon yang baru dua hari ia pakai itu dapat dengan mudah untuk dicuci atau sekedar dilap bagian dalam dan luarnya.
“Untuk menjaga kebersihan, saya tetap mencucinya dengan cara disemprot atau hanya dilap saja bagian dalamnya. Walaupun hanya dari barang bekas tapi kebersihan tetap saya jaga,” jelasnya.
Banyak komentar yang lucu ketika Ali memakai helm masker saat bekerja mengatur lalu lintas. Mulai dari yang melihat aneh pada dirinya hingga diberikan semangat oleh para pengendara.

Walau demikian Ali tidak pernah merasa marah atau jengkel ketika ada orang yang memandang aneh pada dirinya.
“Saya biasa saja ko mas, mau dibilang gimana juga, yang penting niat saya mengatur jalanan karena pertigaan ini tidak ada lampu merahnya dan saat padat pada jam-jam tertentu,” ungkap Ali.
Ali bertugas mengatur lali lintas mulai pukul 06.00 pagi, istirahat jam 12.00 dan dilanjutkan pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, dimana waktu itu jalan sangat padat.

Menurut Ali, sejak mewabahnya virus corona membuat jalanan cukup sepi dan itu berimbas pada penghasilan didirnya sehari-hari.
“Saat corona ini, hanya dapat membawa pulang uang sekitar Rp.30.000 saja karena jalanan juga sepi. Kalau biasanya sempat sampai Rp.50.000-Rp.60.000 per harinya,” tutur pria yang pecinta musik campursari itu.
Selain itu Ali juga menempelkan sebuah kertas putih cukup besar di bagian belakang dengan tulisan Bersama Melawan Corona.
Ketika ditanya makna dari tulisan tersebut Ali mengungkapkan, tulisan itu merupakan pesan moral kepada masyarakat agar dapat sama-sama melawan virus corona.

“Tulisan ini adalah pesan saya kepada masyarakat untuk sama-sama, gotong royong kita lawan virus yang katanya sangat mematikan ini. Sama-sama kita saling menjaga agar tidak semua terkena virus pagebluk itu,” ungkapnya.




Kirim Komentar