Gudeg.net - Diselenggarakan di masa pandemi, Prambanan Jazz Festival (PJF) 2020 digelar secara virtual pada Sabtu-Minggu (31/1-1/11). Kali ini, acara tahunan yang memasuki gelaran keenam tersebut menghadirkan 13 musisi tanah air.
Sekalipun penonton tidak bisa hadir langsung ke venue, namun sensasi menonton konser secara langsung coba dihadirkan Rajawali Indonesia, promotor PJF.
Melalui layar tersebut, mereka bisa langsung berinteraksi dengan artis seperti menonton konser musik secara langsung. Demikian pula sebaliknya, para artis pengisi acara juga bisa melakukan interaksi dengan fans yang menyaksikan secara virtual dari rumah.
Sepanjang acara, penonton juga bisa menyaksikan pemutaran dokumenter PJF, termasuk menghadirkan wawancara dan cerita dari orang-orang di balik panggung perhelatan akbar tersebut.
Tampil dalam acara ini pada hari pertama, Joko in Berlin, Fourtwenty, Isyana Sarasvati, Pusakata, Tompi, Tulus. Sementara itu pada hari kedua, tampil Everyday band, Nadin Amizah, Sinten Remen feat Endah Laras, Ardhito Pramono, Pamungkas, Andmesh, dan Yura Yunita.
Protokol kesehatan diberlakukan secata ketat sepanjang acara ini. Seluruh artis dan kru yang masuk ke venue wajib menunjukkan surat hasil rapid test.
Gugus Tugas Covid-19 DIY juga berada di luar pintu masuk dan mewajibkan pengunjung yang datang dan belum membawa surat hasil rapid test untuk mengikuti tes terlebih dulu.
Founder sekaligus CEO PJF, Anas Syahrul Alimi, menuturkan sebenarnya acara ini tidak sepenuhnya virtual. “Ini hybrid karena artis juga bermain langsung di venue,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (1/11).
Anas mengungkapkan upaya menghadirkan penonton ke venue secara terbatas sudah dilakukan sampai detik-detik terakhir.
Ia sudah membuat konsep berdiri untuk penonton berupa kotak pagar yang berisi maksimal empat orang. Konsep ini diadopsi dari konser di Newcastle, Inggris. Namun, tidak mendapatkan izin karena situasi pandemi.
Sementara itu Co-Founder PJF, Bakkar Wibowo, mengungkapkan, festival ini mengusung semangat kolaborasi dan bukan berkompetisi.
Ia merasa khawatir jika kreativitas mandeg, oleh karena itu senantiasa berinovasi untuk menemukan rumus-rumus baru sehingga festival selalu berjalan di segala situasi. “Keberhasilan Prambanan Jazz adalah keberhasilan tim kami,” ucap Bakkar.




Kirim Komentar