Gudeg.net—Indonesia Gastronomy Community (IGC) meluncurkan sebuah mahakarya program gastronomi Indonesia bernama ‘Gastronosia-IGC’.
Mengungsung tema “Dari Borobudur untuk Nusantara”, program ini diselenggarakan di restoran Rama dan Sinta, Candi Prambanan, Minggu (4/4). IGC adalah perkumpulan yang peduli tentang perkembangan makanan khas Indonesia, dengan fokus pada gastro-diplomasi, dan gastro-turisme.
“IGC melakukan eksplorasi guna memberikan edukasi mengenai perkembangan gastronomi dari sudut sejarah melalui relief dan prasasti sebagai salah satu misi kami dalam memperkenalkan Indonesia sebagai pusat budaya makanan,” kata Ria Musriawan, Ketua Umum IGC saat peluncuran Gastronosia-IGC.
Gastronosia sendiri adalah sebuah program dari IGC untuk merekonstruksi kejayaan gastronomi Nusantara di masa lampau yang relevan digunakan di masa kini.
Peluncuran ini memperkenalkan hidangan yang terdapat pada prasasti penetapan Sima dan relief abad VIII-X, terutama dari Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Cabean Kunti.
Menurut Ria, dengan mengangkat konsep bahwa makanan adalah budaya bangsa, maka gastronomi Indonesia dapat berperan dalam misi-misi diplomasi dan meningkatkan ekonomi melalui gastro-turisme maupun gastro-prenuership.
Persiapan untuk meluncurkan program ini cukup panjang. Hal ini untuk memastikan bahwa interpretasi makanan dari relief dan prasasti sudah tepat dengan penamaan makanan dan budaya pada masa Mataram Kuno.
“Selain studi yang dilakukan oleh tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah, kami juga mengadakan diskusi terbatas dengan para ahli,” jelas Ratna, Ketua Panitia Gastronosia.
Ahli yang terlibat dalam agenda ini adalah Profesor Timbul Haryono selaku Guru Besar Ilmu Arkeologi UGM, Profesor Murdijati Gardjito selaku Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM, Profesor Saptawati Bardosono selaku Guru Besar Nutrisi UI, Bondan Kanumoyoso dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.
Mereka mengupas makna dari prasasti, penamaan yang tepat, dan gizi dan nutrisi dari makanan Abad VIII-X tersebut.
Pada acara Gastronosia, pemaparan tentang budaya makan dan makanan disampaikan oleh Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah.
Dalam paparannya, Riris menggambarkan bagaimana perpaduan relief dan prasasti menunjukkan keragaman bahan dasar makanan dan wujud makanan yang telah diadopsi dari masa ke masa.
Ia mencontohkan Prasasti Alasantan dan Relief Candi Borobudur menunjukkan referensi yang dipakai dalam menentukan makanan yang direkonstruksi.
Dalam acara ini, ada beberapa hidangan yang direkonstruksi oleh Sumartoyo, pelestari kuliner tradisional dan peramu andal. Selain rekonstruksi, ia juga menunjukkan bagaimana cara memasaknya.
Menu yang disajikan antara lain, Rumbah Hadangan Prana (Glinding Daging Kerbau), Knas Kyasan (Kicik Daging Rusa), Klaka Wagalan (Ikan Beong Masak Mangut. Dalam rekonstruksi diganti dengan sidat), dan Harang-harang Kasyan (sidat bakar madu).
Sebagai contoh wujud makanan, diketahui bahwa Kicik Daging Rusa berasal dari interpretasi pada Prasasti Mantasyih I (829 Saka / 907 M , Prasasti Parada II (865 Saka / 943 M), dan relief Borobudur.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid juga hadir secara virtual dalam acara ini.
Menurutnya, IGC Gastronosia ini sangat inovatif dan inspiratif. Inovatif karena mampu memperkenalkan budaya kuno dengan mendekatkan diri pada minat setiap manusia, yaitu makanan.
“Inspiratif karena seni tradisi diangkat lebih menarik dan mudah dipahami oleh multi-generasi dengan menceritakan perpaduan konten verbal dalam prasasti dengan konten visual pada relief,” ungkap Hilmar.
Program Gastronosia akan berlanjut dengan sejarah gastronomi pada kebudayaan Nusantara lainnya yang akan memberikan edukasi serta informasi bagi para penikmat gastronomi serta pemerhati budaya dan sejarah Nusantara.
Saat ini, informasi tentang gastronosia dikampanyekan secara masif melalui website www.gastronosia.com dan akun media sosial @gastronosia.




Kirim Komentar