Gudeg.net- Vaksinasi Bhineka Tunggal Ika yang digelar di Sasono Hiinggil Dwi Abad merupakan jawaban dari keresahan mahasiswa rantau yang selama ini sulit untuk mendapatkan vaksinasi.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) DIY Arie Prasetyowati saat ditemui di lokasi vaksinasi kawasan Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta, Senin (30/8).
“Banyak kawan-kawan mahasiswa yang beberapa waktu lalu kesulitan untuk mendapatkan vaksin di Yogyakarta. Itu dikarenakan mereka ber-KTP luar DIY,” ujar Arie Prasetyowati.
Selain karena berasal dari luar DIY, para mahasiswa juga selalu kesulitan untuk mendapatkan akses maupun link pendaftaran vaksinasi yang sedang digencarkan oleh Pemerintah DIY.

Alasan lain sulitnya mendapatkan vaksin menurut Arie karena kuota vaksinasi yang selalu penuh bila ada pendaftaran, sekalipun ada, mereka (mahasiswa) diminta untuk memenuhi sejumlah persyaratan.
“Andaikan mendapatkan kuota, mahasiswa harus membawa dua orang lansia sebagai syarat untuk bisa mendapatkan vaksinasi di sejumlah rumah sakit dan itu menjadi kendala bagi mereka karena mereka tidak ada keluarga di sini,” tuturnya.
Karena sulitnya mendapatkan vaksinasi, akhirnya mahasiswa perantauan tersebut hanya bisa menunggu, baik program vaksinasi dari tempat mereka berkuliah atau lainnya.
Tidak sedikit yang terus mencari cara agar mendapatkan vaksinasi, hingga mereka bertemu dengan Gerakan Kemanusiaan Republik Indonesia (GKRI) yang dibina oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

“Kami ceritakan kesulitan kami ini, dan akhirnya ibu GKR Hemas memberi kami kuota vaksin untuk teman-teman AMAN dan mahasiswa rantau lainnya yang ada di Yogyakarta,” ungkapnya.
GKRI memberikan alokasi sekitar 1.500 vaksin untuk seluruh mahasiswa luar DIY yang dan vaksinasi digelar selama dua hari, yaitu 30-31 Agustus 2021.
“Kami berterimakasih kepada GKRI atas kesempatan ini dan ini adalah jawaban dari usaha teman-teman mahasiswa rantau untuk mendapatkan vaksinasi,” kata Arie.
Ia berharap, vaksinasi Bhineka Tunggal Ika ini dapat memberikan semangat keanekaragaman budaya dan meneguhkan rasa nasionalisme yang tinggi.
“Yogyakarta sarat akan kearifan budaya dan sebagai miniatur Indonesia. Karenanya semga vaksinasi ini bisa menyatukan kita dalam satu NKRI dan tidak ada perbedaan di antara kita,” harapnya.

Sementara itu Alex, mahasiswa asal Riau sempat menceritakan, usahanya mencari cara agar bisa mendapatkan vaksinasi. Berkali-kali mendaftar, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta tapi selalu penuh dan tidak sedikit juga ditolak karena tidak berKTP DIY.
“Sangat sulit mencari vaksin di sini, sampai pasrah namun minggu lalu dapat kabar dari AMAN kalau kami bisa vaksin, wah senang sekali akhirnya bisa dapat juga,” kata mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) itu.




Kirim Komentar