Gudeg.net- Satu persatu rumah di Pedukuhan Sanggrahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman mulai dibongkar oleh pemiliknya.
Puluhan rumah yang terlihat masih kokoh dan bagus itu harus dibongkar karena pembangunan proyek jalan tol yang menghubungkan Yogyakarta dan Bawen akan mulai dikerjakan dalam dekat ini.
Pedukuhan Sanggarahan merupakan salah satu wilayah yang akan menjadi simpul utama dari pembangunan jalan tol Yogyakarta-Bawen.

Kepala RT 03 RW 07 Sanggarahan Tridadi, Harianto mengatakan, seluruh rumah di lokasinya sudah mulai dibongkar oleh pemiliknya sendiri bukan oleh pihak proyek tol.
“Kebanyakan warga memilih untuk membongkar sendiri rumahnya. Ya, ada yang senang dan ada juga yang sedih karena historinya mereka sudah lama di sini dan pasti sulit dilupakan," ujar Harianto saat ditemui Gudegnet seusai membongkar rumahnya, Kamis (9/9).
Di RT 03 sendiri, Harianto menjelaskan, ada sekitar 27 bidang tanah yang sedang dilakukan pembongkaran secara mandiri oleh pemiliknya.
Untuk diketahui, yang dimaksud bidang adalah luas tanah yang didalamnya bisa terdapat bangunan rumah atau hanya berupa tanah kosong maupun sawah.

“Jadi kalau rumah di RT 03 ini ada 20 yang dibongkar dan 7 bidang berupa tanah kosong dan sawah yang juga sedang dikosongkan, baik tanaman atau padi yang sudah ditanam,” jelasnya.
Selaku pemimpin warga, Harianto banyak melihat warganya yang sedih pada saat membongkar rumah karena harus pindah dari tempat mereka tinggal bertahun-tahun.
Walaupun sudah mendapatkan ganti untung dari pihak proyek namun tetap saja banyak warga yang merasa berat meninggalkan Sanggrahan Tirtoadi.
“Yang sulit itu, meninggalkan cerita mas, histori. Warga sudah puluhan tahun tinggal di sini, anak cucu dari kecil hingga besar di sini. Ya sulit, tapi demi pembangunan ya harus diputuskan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, yang cukup berat meninggalkan lokasi adalah warga asli dari Sanggarahan sendiri, berbeda dengan warga yang merupakan pendatang. “Tidak sedikit yang menangis saat membongkar dan memindahkan barang-barang mereka. Buat saya juga sulit, karena bidang saya juga terkena,” tambahnya.
Oleh sebab itu, ada sejumlah warga akhirnya memutuskan untuk membeli tanah tidak jauh-jauh dari Pedukuhan Sanggrahan, hanya berbeda kampung atau pedukuhan yang tidak terkena dampak jalan tol.
“Mereka yang masih dapat tanah dekat sini cukup senang tapi kalau sudah kehabisan, ya terpaksa pindah cukup jauh,” tuturnya.

Namun Harianto berencana akan tetap menjalin silaturahmi, baik melalui grup whatsapp ataupun menyelenggarakan kumpul terakhir bersama seluruh warga.
“Ya biar semua tetap bisa bersilaturahmi walaupun sudah terpisah atau pindah dari sini. Karena warga di sini sosialnya memang cukup akrab, jadi biar masih bisa saling berkomunikasi,” pungkasnya.
Sebagai informasi, hingga saat ini, hampir semua warga RT 03 Sanggrahan Tirtoadi telah menerima ganti untung dari pihak penyelenggara proyek jalan tol, namun ada juga beberapa yang masih dalam proses pelunasan.





Kirim Komentar