RoadShow Film Kidung karya Hanung Bramantyo di Yogyakarta
POSTER "Film Ini Ditolak Di 6 Stasiun TV Swasta" mulai kelihatan bertebaran di pinggiran jalan Kota Gudeg dan menarik perhatian karena dipasang secara terbalik. Filmnya sendiri berjudul Kidung karya sutradara Hanung Bramantyo yang ditayangkan secara Road Show dan Yogyakarta mendapat kesempatan pertama dalam putaran tersebut di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta selama 3 hari berturut-turut, 9 hingga 11 Januari 2004 pkl. 14.30, 15.30, 17.00, dan 19.30 WIB. Melalui poster yang dipasang terbalik, Hanung ingin berpesan bahwa film ini rejected dan fakta ini tak ditutupinya. Ia menyerahkan keputusan ini sepenuhnya. "Mau ditonton atau tidak ya terserah," katanya.
Ditemui GudegNet di LIP (Lembaga Indonesia Perancis), Hanung bercerita soal lingkaran setan bisnis pertelevisian yang membuat filmnya ditolak. Penolakan atas film Kidung ini dikomentari karena film ini bercerita lokal dan pihak televisi takut tak ada yang berniat memasang iklan. Ketika ada film yang dinilai ratingnya bagus, saat itulah televisi dan pemasang iklan melirik untuk menayangkan. Alasan `terlalu lokal` inilah yang mengganjalnya. "Tetapi jika melihat beberapa film lokal, film berkultur Betawi, Padang, dan lainnya juga tak kalah meramaikan televisi kita," dalihnya.
Lulusan IKJ Fakultas Film ini sempat patah semangat saat filmnya ditolak. Kidung yang dibuat pada tahun 2002 itu lalu disimpannya saja hingga seorang teman menemukannya dan meyemangatinya untuk memutar film itu. Film itu akhirnya diputar di Galeri 28 Jakarta dan Gedung Trans-TV sebagai Pra-Road Show. Dari pemutaran itu muncul diskusi wacana film di balik dunia pertelevisian dan respon-respon yang mengembalikan percaya diri Hanung. Saat ini ia berniat mengikuti jejak Aria Kusumadewa dan beberapa komunitas film Yogya yang berhasil dengan cara pemutaran film keliling.
Kidung bercerita tentang siklus hidup manusia dari Cinta, Pernikahan, hingga Kematian yang dikemas dalam kultur budaya Jawa. Ditulis oleh seorang budayawan Yogya, Whani Dharmawan, film Kidung tersimbol melalui Asmaradana, Mijil, Gambung, hingga Pocung dalam tembang Jawa. Shooting film yang hanya memakan waktu 7 hari ini ber-setting di kampung Gondolayu, Ledhok Sungai Code melibatkan pemain Landung R Simatupang, Yati Surachman, Marwoto, Harjanto Sahid, Paundrakrna, Dirjo Tambur, dan Ira Riswana.
Kiprah Hanung di dunia perfilman sudah sejak tahun 1996 lewat film Surya Menggapai Maharani. Setelah itu lewat karya Gelas-Gelas Berdenting (1999) yang ditayangkan di RCTI dan meraih penghargaan Bronze Cairo International Film Festival. Pernah juga ia membuat sejumlah skenario sekaligus menyutradarai Seribu Anak Pulau dan Visi Anak Bangsa bersama Garin Nugraha. Karyanya yang baru saja tayang di Trans-TV tahun 2003 lalu adalah film dokumenter Pustaka Tokoh Bangsa berjudul "Soekarno" dan "Panggung untuk Syahrir". Melalui film Topeng Kekasih ia mendapat sejumlah pujian di Tampere International Film Festival Finland, New York University Student Film dan menjadi satu-satunya film Indonesia dari 34 negara di dunia, Singapore Film Festival, serta Melbourne Film Australia.



Kirim Komentar