Kisah Perempuan dalam Pemeran Foto "Ijin Tidur Terbatas" karya Fukamachi Rei
PAMERAN FOTO "Ijin Tidur Terbatas" karya Fukamachi Rei dipamerkan di Galeri Lembaga Indonesia Perancis Jalan Sagan No 3 Yogyakarta, dari 5 hingga 10 Januari 2004 mendatang. Berlangsung selama 6 hari, pameran foto ini cukup diapresiasi oleh penikmat seni dan mendapat dukungan dari Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DIY, dengan diskusi pada hari pertama. Sejumlah 16 buah foto yang dibuat sepanjang tahun 2003, dipamerkan dengan tema, sudut pandang, juga teknik salon foto yang beragam.
Bagi Koalisi Perempuan Indonesia, Fukamichi Rei bukanlah seseorang yang baru dalam dunia yang berhubungan dengan pergerakan perempuan. Rei adalah sosok perempuan yang berdedikasi pada dunia seni alternatif yang ingin mempersilahkan semua orang untuk masuk lebih dalam pada dunia “seni sebagai gerakan sosial” dan secara spesifik foto sebagai alat komunikasi pembelaan terhadap korban kekerasan gender.
Foto-foto yang dipamerkan tidak secara lugas mengambarkan potret dan sosok perempuan. Dalam foto yang berjudul "3 Perempuan", disimbolkan dengan 3 karung rumput diletakkan horisontal dan saling bersinggungan. Urusan perempuan di dapur dilambangkan dalam karya "Bukan Bahasa Tetapi Terasa", di mana yang menjadi fokus utama adalah panci dengan pantatnya yang menghitam.
Berbagai aktifitas yang dilakukan oleh Rei sendiri sejak 1999, tidak jauh dari dunia pergerakan perempuan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesenian. Rei yang lahir di Tokyo, Jepang tahun 1972 sudah banyak pula berkiprah dalam dunia fashion, namun juga pada tahun 2001 hingga 2002, Rei menjadi penulis essay tetap dengan judul Fashion toiu Shuriken yang membicarakan mengenai ketidakadilan dalam dunia fashion untuk sebuah website Love Piece Club Tokyo, Jepang.
Pameran fotonya yang pertama dilakukannya pada tahun 2003 dengan judul Rasa: Rahasia Salam yang diikuti juga dengan diskusi tentang Art and Feminism di Galeri Taman Budaya Jawa Tengah juga bekerjasama dengan KPI, Yogyakarta. Pameran foto kali ini merupakan pameran foto keduanya. Di sisi lain, alasan Rei mengelar pameran "Ijin Tidur Terbatas" adalah karena ada juga unsur ketidaksengajaan. “Secara tidak sengaja, saya tidak bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah ada di masyarakat dan dunia saya hidup. Foto-foto yang saya pamerkan untuk program ini kebanyakan pemandangan alam biasa, seperti yang bisa kita lihat di sekitar kita.”
Padahal menurutnya pula dunia ini sudah terlalu penuh dengan berbagai masalah kemiskinan, kekerasan, perang, ras, diskriminasi, korupsi dan kriminal. Jadi mengapa Rei dan KPI Yogya memilih masalah poligami dalam tema diskusi fotonya beberapa hari lalu karena masalah ini memperhatikan “komunikasi hati” di antara manusia dari berbagai bangsa maupun jenis kelamin. Perhatian , kejujuran, keamanan, kehormatan dan kebohongan. “Semua itu kalau kita pikir lewat sistem poligami akan lebih mudah membayangkan betapa kurang dan ruginya kalau kehilangan perasaan dan hati saat berkomunikasi.”



Kirim Komentar