Menghibur Hati Dengan Penggeli Hati Di Bentara Budaya
DAGELAN DALAM MEDIA MASSA, KHUSUSNYA TELEVISI, seringkali berlebihan dan vulgar baik dalam mengeksploitasi seks maupun politik. Tengok saja pada bacaan-bacaan atau acara-acara humor di televisi kita, banyak di antaranya yang lebih sering menyuguhkan sentilan-sentilan tentang peristiwa politik yang tengah terjadi serta mempertontonkan liuk tubuh wanita seksi dengan banyak kata-kata yang menjurus ke arah pornografi, ketimbang guyonan-guyonan segar tentang hidup keseharian kita. Tak heran bila kemudian acara-acara yang miskin ide tersebut kalah bersaing dengan cerita-cerita humor dari luar negeri, misalnya kartun humor anak-anak Jepang. Mengandalkan pengalaman keseharian yang kadang naif, cerita humor tersebut menjadi hiburan yang selalu ditunggu-tunggu penonton ataupun pembacanya.
Bila ditengok kebelakang beberapa dasawarsa silam, dagelan-dagelan kita dari segi ide orisinil cerita maupun gambarnya nyata-nyata tak kalah bagus dari humor-humor buatan luar tersebut. Sebut saja majalah atau buku Almanak terbitan tahun 30`an hingga 40`an yang dipamerkan Bentara Budaya Yogyakarta dalam Penggeli Hati selama seminggu ini, seperti Sin Po, Star Weekly, Kajawen dan GIDS MELAJOE dengan memakai berbagai dialek Cina, Jawa, Melayu dan Betawi . Di dalam majalah-majalah tersebut terdapat cerita-cerita lelucon ringan namun mengena tentang keseharian hidup manusia yang segar dan mudah dipahami tanpa harus mengeksploitasi seks ataupun menyerempet politik. Contohnya dalam beberapa lelucon Majalah Sinpo edisi Februari 1931 dengan judul "Rumah Makan Jempol", "Salah Wisel" ataupun lelucon Majalah Gids Melajoe edisi 1929 berjudul "Jawaban Yang Kena Pada Tempatnya".
Seorang tamu datang ke sebuah restoran dan berbicara kepada pelayan.
Tetamu : "Apa ini rumah makan klas satu ?"
Jongos : "Pasti Tuan! Semua pake barang baru betul. Liat ayam yang sebentar bakal dibikinin sup buat Tuan masih jalan-jalan di kebon!"
Seorang ibu berbelanja topi di sebuah toko yang ditemui pelayannya
"Dengan itu, topi Nyonya kelihatan 25 tahun lebih muda !"
"Kurang ajar, jai lu mau kata aku sebetulnya sudah kolot (tua)!"
Kata seorang majikan kepada jongosnya : "Bersihkanlah selop ini sebab saya hendak pesiar makan angin."
Jawab si jongos yang mengetahui jalan raya becek, sebab baru habis hujan turun, "Tuan buat apa selop itu dibikin bersih, sebab nanti toh jadi kotor lagi !"
Majikannya menyahut : "Bagus, nanti kau jangan makan ya, sebab besuk pagi kau toh lapar lagi."
Si jongos merasa keok omongannya, lalu dengan segera itu selop dibikin bersih sampai mengkilap.
Dagelan-dagelan segar atau sering disebut "Penggeli Hati" yang tanpa memakai seks dan politik sebagai temanya tersebut, menurut kurator Bentara Budaya, Hermanu adalah lelucon-lelucon lama atau dagelan kuno asli Indonesia yang menjadi hiburan segar pada zamannya. Namun tak menutup kemungkinan bisa dinikmati sekarang ini di saat kita sedang dihadapkan pada situasi yang carut marut. "Memang lelucon ini kelihatannya ketinggalan zaman, tetapi lelucon lama kadangakala masih kita butuhkan untuk menambah wawasan tentang dunia hiburan yang masuk dari globalisasi dunia hiburan saat ini," jelas Hermanu yang berharap pula "Penggeli Hati" dapat menyejukkan hati agar awet muda.



Kirim Komentar