Pedagang Selasar Terima Ruang di Pasar Beringharjo

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

PARA PEDAGANG SELASAR PASAR BERINGHARJO Yogyakarta yang beberapa hari lalu mengadukan nasib mereka ke DPRD Yogyakarta karena dilarang untuk berjualan di area pasar akhirnya mendapatkan jawaban dari pihak terkait mengenai lokasi penempatan dan izin untuk berjualan. Jawaban tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Pasar Kota Yogyakarta, BP Haryo Djarot Santoso kepada wartawan Kamis (15/1) siang dan mengatakan bahwa mereka diberi ruang khusus untuk menjajakan dagangannya. "Dengan adanya lokasi yang telah diberikan kepada mereka secara otomatis mereka harus ikut aturan main yang ada di Pasar Beringharjo," ucapnya.

Pedagang selasar sendiri menempati beberapa lokasi dengan menggelar dagangannya di sela-sela lorong pasar, sepanjang tangga naik ke lantai berikutnya hingga di trotoar yang seharusnya digunakan oleh para pejalan kaki. "Jualan mereka itu ada yang kain dan buah-buahan bahkan klithikan juga ada," tukasnya. Djarot mengungkapkan, pedagang selasar tersebut sebenarnya sudah dilarang berjualan sejak sebulan lalu karena berada di lokasi yang sengaja dilarang agar tidak mengganggu aktifitas pasar.

"Saya tidak akan gegabah dan grogi karena mereka hanya menginginkan perbaikan kehidupan. Namun mereka juga harus memahami beberapa hal agar tidak terjadi benturan antara pedagang yang sudah punya kartu bukti dagang dengan yang belum," terangnya. Djarot sendiri merasa bangga atas animo masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka dan hal tersebut merupakan tindakan terpuji dan perjuangan yang bagus.

"Besok lokasinya akan berada di bawah jembatan penghubung yang mampu menampung para pedagang itu dengan luas 190 meter," tukasnya. Hingga saat ini, pedagang yang menempati Pasar Beringharjo sudah sebanyak 7000 orang dan mereka yang telah memiliki izin usaha berdagang. "Yang tidak punya izin sedikit jumlahnya karena para petugas selalu keliling untuk menarik restribusi pasar sekaligus mendata mana pedagang yang punya izin dan tidak," terangnya. Ia mengatakan, pihak pasar juga harus fair dan jangan sampai mengganggu hubungan dagang dengan para penjual yang sudah lama menjajakan dagangannya di lokasi tersebut.

Tentunya keputusan tentang pemberian ruang pada pedagang selasar tidak hanya di Pasar Beringharjo saja namun juga akan diusahakan di beberapa lokasi seperti di Pasar Lempuyangan dan Pasar Giwangan. "Diusahakan untuk yang masih berada di lokasi Sriwedani dan Pabringan untuk pindah ke lokasi yang telah disediakan di Beringharjo. Dinas Pasar akan siap membantu mereka untuk menempatkan dagangannya dari tempat semula sampai lokasi yang telah disiapkan," tuturnya.

Beberapa pedagang selasar yang sempat ditemui GudegNet secara terpisah, baik waktu demo maupun di lokasi, mengemukakan bahwa pada dasarnya, pelarangan itu memang akan terjadi tapi juga perlu dipikirkan lokasi untuk menampung mereka. "Kami sekarang lega karena sudah dapat jawaban kalau ada tempat di bawah jembatan," ucap Yati, seorang pedagang kain. Ia menambahkan, seharusnya pemerintah jangan main tutup dan bongkar tenda atau dagang, namun dilakukan dialog antara kedua belah pihak.

Sama halnya seperti yang dikeluhkan para pedagang lain bahwa mereka berjualan untuk memberi makan anak dan istri di rumah. "Saya harus kasih makan apa sama orang di rumah kalau tidak boleh jualan di pasar,". Namun sebagian besar pedagang selasar belum tahu aturan main jika mereka menggelar dagangannya, mulai dari lebarnya space untuk tiap pedagang hingga restribusi dan izin jualan yang harus dimiliki oleh setiap pedagang.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini