Caroline Rika Gunakan BH Sebagai Media Berkarya
PERUPA TEXTILE, CAROLINE RIKA WINATA bersiap menggelar pameran dengan media yang cukup unik, yaitu BH. Peraih Fifth Winner of “Batik World”, pada The International Batik Competition (1997) dan Nomination of The International Batik Competition and Jogjakarta Batik Festival (2000) ini akan menggunakan BH bekas sebagai media eksplorasi menjadi sebuah karya seni. Pameran yang akan berlangsung di Kedai Kebun Forum sekitar pertengahan tahun 2004 ini, bermain seputar BH dan persepsi wanita.
Alasan memilih BH bekas sebagai media utama dalam berkarya kali ini menurutnya terbesit begitu saja ketika ia memutuskan sebuah BH yang biasa ia pakai kemudian menjadi sebuah BH bekas. “Ada perasaan kehilangan ketika saya memutuskan benda pakai tersebut menjadi barang bekas, ” ceritanya kepada GudegNet saat bertandang ke rumahnya di Perum Sewon Asri F-09, Bantul, Yogyakarta.
Rika bercerita tentang konsepnya untuk pameran kali ini. Ia kemudian berpikir dan ingatannya melayang jauh, mundur beberapa waktu ketika untuk pertama kalinya ia membeli BH tersebut. Baginya, proses pemilikan BH sangat berbeda sekali dibandingkan dengan pakaian lainnya. Ia tidak punya pilihan dalam hal memilih BH. Ia hanya bisa memiliki BH dengan cara membeli satu merek tertentu dengan ukuran tertentu saat discount. Karena merek tersebut sangat terkenal dan mahal harganya, sehingga biasanya ia mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk membelinya atau membeli sebanyak mungkin ketika ada sale.
Tak ada orang yang berniat membuat BH sendiri atau mejahitkannya ke orang lain. Pertama, karena pola BH sangat rumit sekali sehingga apabila membuatnya sendiri, akan sulit mendapatkan tingkat kenyamanan pakai yang pas. Kedua, ada tempat khusus di mana kita dapat memesan BH sesuai dengan ukuran tubuh kita, tapi harganya menjadi mahal. Bisa lebih mahal dibandingkan dengan membeli merek yang biasa saya beli saat discount.
Ia juga mengamati bagaimana cara para wanita membuang BH bekas milik mereka. Beberapa perempuan diajarkan oleh ibu mereka untuk mengunting-gunting BH tersebut sebelum dibuang. Alasannya karena BH tersebut barang yang sangat pribadi sehingga harus digunting supaya tidak dipakai oleh orang lain. Ada juga yang akhirnya membakar BH bekas tersebut karena bingung bagaimana cara membuangnya. Lain halnya dengan Rika. Biasanya ia hanya membungkus BH bekas dengan plastik hitam, kemudian membuangnya bersama-sama dengan sampah yang lain. Terbersit dalam pikirannya untuk mengolah barang bekas itu menjadi sebuah karya. “Ketika saya memutuskan mengakhiri tugas salah satu BH kesayangan, saya merasa BH tersebut belum cukup diapresiasi. Ada perasaan kehilangan yang cukup dalam,” katanya.
Rencana pameran karya kali ini, ia menggabungkan ide BH dan persepsi dengan teknik celup ikat, teknik yang ia kuasai selama ini. BH bekas sebagai medianya akan didaur-ulang menggunakan teknik ini dan Rika akan tetap bermain di wilayah persepsi tentang bagaimana BH dipandang dan diapresiasi oleh para wanita Indonesia.



Kirim Komentar