Buku Exploring Vacuum : 15 Tahun Rumah Seni Cemeti
RUMAH SENI CEMETI MELUNCURKAN BUKU "EXPLORING VACUUM" sebagai judul dan tema dalam gagasan kuratorial proyek seni rupa yang diadakan dalam rangka perayaan ulang tahun Rumah Seni Cemeti yang ke-15. Dengan dukungan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta, peluncuran buku Exploring Vacuum_15 Tahun Rumah Seni Cemeti tersebut, digelar Selasa (27/01) malam pkl 19.30 WIB di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I Panjaitan 41 Yogyakarta.
Dilanjutkan dengan diskusi bertemakan quo vadis Rumah Seni Cemeti, membawa sejumlah pertanyaan krusial setelah 15 tahun perjalanan dengan relevansi formula pameran bulanan. Menghadirkan pembicara Asmudjo Jono Irianto, seniman serta dosen ITB, Alia Swastika, Icon dari Kunci (Culture Study Jogja), Bambang Kirik Ertanto, peneliti dan Saut Situmorang sebagai moderator diskusi yang juga editor dalam buku Exploring Vacuum_15 tahun Rumah Seni Cemeti.
Buku tersebut merupakan bunga rampai tulisan dari 27 pendukung dan pemerhati seni rupa kontemporer seperti peneliti, kurator, pekerja jaringan, seniman, arsitek, sastrawan, akademisi, kritikus, kolektor, reporter, guru, dosen pengajar, pekerja museum, pekerja sosial, dan aktivis negeri dan luar negeri. Buku setebal 248 halaman, yang di dalamnya terdapat 500 gambar/foto karya-karya dan peristiwa, serta 110 halaman berwarna tersebut di jual dengan harga 90 ribu.
Dalam diskusi tentang ruang seni alternatif yang berusia paling lama di Indonesia ini, Kirik membahas periode 15 tahun keberadaan Cemeti, di mana dikatakan bahwa walaupun berumur 15 tahun, namun semangat untuk mendirikan ruang seni alternatif cukup intens terutama di kota Yogyakarta ini. Rumah Seni Cemeti mampu bertahan dalam wilayahnya sampai saat ini. Disinggung pula oleh Asmujo aspek-aspek pendukung tersebut, terutama dalam persoalan manajemen institusinya.
Iklim perubahan wacana yang dilihat oleh Kirik sekitar 15 tahun yang lalu terutama di kampus-kampus itu sepertinya akomodatif terhadap berdirinya ruang-ruang alternatif seperti Cemeti. Ada semacam gerakan-gerakan untuk membuka ruang-ruang alternatif atau ruang baru.
Tiga hal penting yang disimpulkan oleh Kirik dalam pembicaraannya yang dianggap sangat penting sebagai ciri seni kontemporer di Indonesia adalah persoalan akses pada teknologi dan dukungan finansial dari pihak terkait. Kemudian dikaitkan dengan persoalan institusi galeri atau kritikus. Dan faktor ketiga yaitu efek ekonomi yang dalam bahasa pasarannya disebut pasar, efek ini sangat dominan dalam dunia seni rupa apalagi dibandingkan dengan dunia sastra, sepertinya dunia sastra mempunyai hubungan simbiosis mutualisme dengan pasar.
Melihat kontribusi cemeti yang sangat besar bukan hanya di dunia seni rupa Kota Gudeg, tapi paling tidak di Pulau Jawa, dan itu menjadi pengaruh tersendiri bagi Asmujo dan kawan-kawan. Kekuatan rumah seni Cemeti sebagai sebuah ruang seni alternatif dalam survive-nya 15 tahun ini adalah manajemen yang baik sebagai faktor utama keberhasilan sebagai ruang seni alternatif. Menurut Asmujo eksplorasi pada hal-hal baru yang dilakukan oleh Rumah Seni Cemeti merupakan sikap positif. Direkomendasikannya bahwa akan lebih menarik jika Cemeti mulai juga melihat keluar dari wacana kekontemporeran seni rupa, yang dimaksudnya jelas yaitu persoalan pasar.
Sebagai pembicara ketiga Alia Swastika, membahas persoalan tentang perempuan kaitannya dengan dunia seni rupa kontemporer khususnya di Yogyakarta. Alia menganggap Cemeti tidak mempunyai masalah apa-apa terutama dari prospektif perempuan, bahwa kuota pameran seniman perempuan di Rumah Seni Cemeti dianggap telah cukup feministis dibandingkan dengan tempat-tempat lain. Persoalan estetika bagi perempuan untuk menjadi seniman mapan tidak dilihatnya sebagai alasan sedikitnya perempuan yang menjadi seniman mapan.
Mengkaji pola penyelenggaraan sebuah galeri, pola penyelenggaraan alternative, semacam kantong budaya/rumah seni, independensi dan dependensi, komersial dan non komersial, eksplorasi dan regenerasi, mapan dan pencarian. Dikotomi pada seluruh nilai-nilai inilah yang selalu dan tetap akan menjadi api semangat Cemeti, manakala harus ditinjau maupun dikonstruksi ulang.



Kirim Komentar