Lima Gunungan Untuk Masyarakat Dalam Upacara Garebeg

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

IDUL ADHA DIRAYAKAN OLEH KRATON NGAYOGYAKARTA DENGAN GAREBEG AGENG, Senin (02/02) pagi, untuk masyarakat Yogyakarta dengan membawa gunungan yang berisi hasil bumi yang dipikul oleh beberapa abdi dalem Kraton, yang terdiri atas lima gunungan, yaitu Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Pawuhan dan Gunungan Dharat yang dibawa dari Pagelaran Keraton, menuju Masjid Agung Kauman untuk diberkati oleh penghulu masjid dan berakhir di Alun-Alun Utara untuk diperebutkan masyarakat umum.

Tampil sebagai komandan pasukan selama prosesi berjalan adalah Manggalayudha GBPH Yudaningrat. Prosesi tersebut menjadi lebih menarik karena diawali oleh 8 pasukan/peleton prajurit tradisional Kraton termasuk pasukan pengawal pribadi Sultan yang tiap pasukan terditi atas 50 orang, terdiri atas Prajurit Lombok Abang (Wiroboyo), Daeng (berasal dari Makasar), Patang Puluh, Jagakarya, Prawirotomo, Nyutran, Ketanggung dan Mantri Jero. Sedangkan dua pasukan terakhir, yaitu Bugis dan Surokarso berfungsi untuk mengawal gunungan hingga prosesi selesai. Ketiga barisan prajurit (Nyutran, Ketanggung dan Mantri Jero) merupakan pasukan pribadi Sri Sultan.

Setiap peleton memiliki pakaian maupun senjata yang berbeda dan dilengkapi dengan musik menggunakan seruling, gendang, gong kecil,drum hingga terompet. Acara dimulai sejak 07.00 WIB dan berakhir hingga 12.00 WIB. Sesampainya iring-iringan gunungan di halaman Mesjid Agung dan setelah mendapat berkat dari pemuka agama, sebagai puncak acara berkah berupa gunungan tersebut baru boleh diperebutkan oleh seluruh masyarakat.

Inilah awal dari pemberian nama acara tersebut dengan nama Grebeg Ageng. Hal lain yang tidak kalah menarik berupa ratusan masyarakat dari Yogyakarta dan sekitarnya (bahkan dari luar kota atau turis manca negara) menanti acara penggrebekan tersebut, bahkan ikut berebutan. Mereka rela berhimpitan dan berdesakan untuk berebut gunungan yang terdiri dari palawija dan hasil bumi lainnya yang dirangkai menjadi gunungan secara menarik.

Menurut kepercayaan masyarakat Yogyakarta, barang yang diperebutkan tersebut bisa membawa berkah atau rejeki tersendiri. Maka tidaklah heran kalau acara tersebut selalu dipadati oleh ratusan manusia untuk berharap mendapat berkah dari Grebeg Ageng ataupun wisatawan serta para wartawan yang datang untuk menyaksikan upacara yang unik dan menarik tersebut. Beberapa masyarakat rela menunggu dari pagi hari hingga acara ini berakhir di siang hari. Masyarakat yang masih percaya dengan kesakralan upacara tersebut, akan rela datang sehari sebelumnya untuk mendapat tempat terbaik saat akan memperebutkan gunungan yang digrebeg.

Dalam setahun sekali, Keraton Nyayogyakarta menyelenggarakan tiga kali Garebeg, yakni Garebeg Mulud (peringatan Maulud Nabi Muhammad saw), Garebeg Ageng (Idul Adha), dan Garebeg Sawal (Idul Fitri). Pelaksanaan Garebeg Sawal sendiri memang tidak sebesar Garebeg Ageng, namun kelengkapan pelaksanaan upacara tetap sama dan dalam kaitan ini banyak pula kegiatan tradisional yang diselenggarakan di Keraton Yogyakarta.

Upacara Garebeg itu sendiri berupa keluarnya Gunungan (Hajad Dalem Pareden) yang berisi berbagai jenis sayuran dan makanan khusus yang ditata hingga menyerupai gunung. Makanan khas dan khusus yang ada dalam Gunungan itu sendiri antara lain tlapukan, upil-upil, betetan, rengginang, ole-ole, eblek dan sampil yang keseluruhannya terbuat dari ketan.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini