31 Kelurahan Yogyakarta Potensial Banjir dan Longsor

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

SELAMA MUSIM PENGHUJAN DAN DENGAN PERKIRAAN CURAH HUJAN yang semakin tinggi, Kantor Kesatuan dan Kebangsaan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) telah melakukan koordinasi dengan 14 camat dan 31 kelurahan di Yogyakarta untuk menilai daerah yang rawan bencana banjir dan longsor. "Karena dilewati oleh 3 sungai, Sungai Winongo, Sungai Code dan Sungai Gajah Wong, rumah-rumah yang terletak di bantaran sungai telah disediakan lokasi untuk evakuasi awal," tukas Kepala Kesbanglinmas, Drs Poedjo Widodo kepada wartawan saat ditemui di ruangannya, Rabu (4/2) siang.

Poedjo mengatakan, seandainya terjadi banjir di ketiga sungai tersebut, camat dan lurah di daerah masing-masing sudah siap menanganinya. "Kita juga berkerjasama dengan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) dan Radio Amatir Penduduk Indonesia (RAPI) untuk memonitor tiap wilayah yang rawan itu serta RT/RW di sepanjang bantaran sungai," ungkapnya. Ia menambahkan, yang tidak kalah penting adalah aparat di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk meminta laporan jika terdapat tanggul yang sudah geser atau menggantung dari pondasi (dasaran) serta melaporkan ke pihak terkait.

Secara khusus Kesbanglinmas mengerahkan Linmas (hansip) yang terdapat di tiap wilayah sebagai pertolongan dini untuk banjir dan longsor. Tempat-tempat yang dapat digunakan sebagai lokasi evakuasi berupa SD, masjid, lapangan, balai RW, kecamatan hingga kelurahan terkait. Poedjo menceritakan kejadian yang paling parah di Yogyakarta terjadi pada tahun 1984 di Sungai Code yang memakan 6 rumah penduduk dan beberapa korban tahun 1999.

"Pada dasarnya kami telah siap karena kami juga telah melakukan beberapa gladi bersih dengan melibatkan ORARI, RAPI, Puskesmas dan pihak-pihak terkait jika bencana tersebut terjadi secara tiba-tiba. Tanggul-tanggul yang dibuat sekitar tahun 1980-an sudah tampak ada retakan dan tidak menempel lagi pada pondasi," jelasnya tanpa memerinci tanggul mana saja yang kondisinya demikian.

Dengan mengerahkan 3.948 personil Linmas, Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana dan Penyelamatan Pengungsi siap 24 jam untuk menerima laporan masyarakat mengenai kejadian bencana alam. "Biasanya jika air sudah berjarak 0,5 meter dari bibir tanggul maka penduduk di sepanjang pinggir sungai sudah mulai melakukan evakuasi spontan dan kita juga sudah mengirim bantuan yang sebelumnya mendapatkan informasi dari Satlak Sleman mengenai arus air yang berlebihan," terangnya.

Poedjo mengemukakan bahwa semakin lama sungai ditalud maka tidak tertutup kemungkinan debit air yang mengalir semakin kencang jika taludnya hancur atau rusak tidak kuat menahan aliran sungai dari hulu ke hilir. "Yang jelas camat dan lurah harus tanya kepada masyarakatnya mana saja tanggul yang rawan. Juga mereka wajib tinggal di wilayah masing-masing untuk memantau banjir dan longsor yang datang secara tiba-tiba," imbuhnya. Beberapa daerah yang termasuk rawan tersebut setelah melakukan pemantauan dari tingkat kemiringan dan ketinggian tanah diantaranya Pringgokusuman, Bumijo, Kricak dan Ngampilan.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini