Art For Children Dari Taman Budaya Yogyakarta
KEBUDAYAAN HANYA DAPAT BERTAHAN DENGAN ADANYA GENERASI PENERUS sehingga mereka perlu mendapatkan bekal bagi kelangsungan kehidupan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Bekal tersebut berupa hal yang dapat mengembangkan kecerdasan intelektual yang tentunya didukung kepekaan terhadap pengembangan kebudayaan khususnya kesenian. Demikianlah yang dilakukan oleh Taman Budaya Yogyakarta untuk anak-anak dalam bidang kesenian. Hal tersebut diungkapkan oleh Widodo Kuswantyo Kamis (5/2) siang yang akan melakukan bimbingan pada seni tari klasik.
Bimbingan tersebut dibagi dalam 7 seni, yaitu Seni Tari Klasik, Seni Tari Kreasi Baru, Seni Musik-Ensamble Musik, Seni Karawitan, Seni Teater-Sastra, Seni Rupa dan Seni Pewayangan. Pendaftarannya bersifat gratis dan dapat dikoordir melalui sekolah masing-masing, bimbingannya sendiri dilakukan di Gedung Concert Hall / Societet Taman Budaya Yogyakarta Jl Sriwedani No 1. Bimbingan seni dilakukan setiap hari Minggu sejak pk 10.00 WIB selama dua jam dan dimulai pada tanggal 7 Maret 2004.
"Pewayangan tidak bisa memberikan apresiasi secara terus-menerus terutama pada Wayang Purwo. Bukan pada lakon yang menjadi titik berat dalam bimbingannya tapi lebih pada bentuk wayang karena secara struktur sangat unik. Jika anak sudah jelas tentang bentuk makan baru pada tahap cerita dan jenis wayang yang ada," ucap pendamping Seni Pewayangan, Ismoyo. Pembimbing lainnya yang ikut berpartisipasi, yaitu Widodo Kuswantyo dan Retno Putria (Seni Tari Klasik), Ngatini (Seni Tari Kreasi Baru), Nawo Keswara dan Benny (Seni Musik-Ensamble Musik), Suyoto dan Sugeng S (Seni Karawitan), Arif Kriying dan Hamdy Salad (Seni Teater-Sastra) serta Yuswantoro Adi (Seni Rupa).
Bagi Arif, kesenian merupakan building character dan penyampaiannya dalam bimbingan tidak bersifat metodologis seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah. "Ketika saya di TK untuk mengajarkan tembang Jawa, mereka (anak TK) terkekeh-kekeh. Kan rasane dadi wong jawa keloro-loro," tukasnya. Arif mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi tetapi tidak doktrinasi dan secara pribadi berusaha memasukkan falsafah pola pikir dalam setiap nakah yang diberikan nantinya. "Apapun bentuknya dalam kemajuan globalisasi, kita juga harus mengimbanginya. Maka itu fungsinya sebagai taman budaya," tambahnya.
Dengan metode back to nature, Arif tidak ingin memberikan materi teater seperti pada umumnya beserta latihan yang berat. "Irama atau roh yang ringan berusaha kita sajikan, walaupun sulit kita akan coba dari situ. Tidak ada barometer gagal sehingga pada dasarnya kesenian itu menanusiakan manusia tentunya," tukasnya. Konsep bimbingan tersebut akan menggarap dari sisi afektif terutama dari kreativitas sang anak. "Kita tidak bisa membentuk seniman tapi dari merekalah seniman itu muncul. Tentunya harus diciptakan situasi dan kondisi yang mendukung," tegasnya.
Seni Karawitan yang diwakili oleh Suyoto berharap dengan dapat membaca notasi dan memainkan gamelan, merupakan modal si anak untuk bisa melihat notasi kepatihan (baca not dalam bahasa jawa). "Saya sengaja membatasi kelas 4 SD ke atas dengan harapan tidak perlu mengajari membaca dengan bahasa jawa karena mereka sudah bisa membacanya sendiri. Jika tahap itu bisa dilewati maka tentunya anak-anak bisa kita berikan materi yang lebih berbobot lagi," tambahnya.



Kirim Komentar