Komunitas Daging Tumbuh Eksis Sebagai Galeri Berjalan
PROSES BERKARYA PROSEDURAL DAN KONVENSIONAL tak selalu diikuti oleh seniman Yogyakarta. Jika ditelusur lebih jauh dan peka terhadap apa yang ada di sekitar kehidupan seniman dan perupa, mereka tidak lagi bergantung pada galeri atau alternative space, yang sedang marak belakangan ini. Dengan semangat independen, seorang perupa Eko Nugroho yang terkenal dengan Daging Tumbuh yang disebutnya sebagai galeri berjalan ini, baru saja menyelenggarakan Foto Copy Award, sebuah kompetisi karya dalam bentuk apapun asal telah di-fotocopy.
Ditemui GudegNet saat menyiapkan pameran dan launching Daging Tumbuh Volume # 8 di Kedai Kebun sehari sebelumnya, Eko bercerita tentang pendapatnya bahwa selain kaos bermerk Dagadu dan Bakpia Pathuk, Jogja juga mempunyai cenderamata yaitu Foto Copy. Mesin Foto Copy dicermatinya sebagai alat yang banyak ditemui di Yogyakarta dibandingkan dengan kota lain di Indonesia. Oleh sebab itu, Foto Copy Award dimaksudkan sebagai bentuk dan cara menghargai mesin foto copy tak hanya sekedar mesin tetapi juga alat untuk bereksperimen dan berekspresi sehingga menghasilkan karya.
Ditanya tentang tujuan menyelenggarakan Foto Copy Award ini, Eko mengatakan bahwa dirinya hanya ingin menyemangati dan mengajak orang menyemarakkan kompetisi, karena dinilainya kompetisi sekarang lebih menjanjikan dan tidak bersih. Ia secara pribadi sangat men-support orang-orang yang mau berkarya dan semangat membuat sesuatu entah itu dalam bentuk naskah, coretan, atau apapun tetapi harus difotocopy terlebih dahulu.
Satu edisi hanya dicetak sebanyak 150 exemplar dan dijual seharga Rp. 25.000 saat launching dan Rp. 30.000 saat sudah masuk ke distro, alternative space, gallery, dan tempat-tempat pertunjukan seni. Jumlah itu tidak ditambahnya jika kehabisan, selebihnya penggemar Daging Tumbuh dipersilahkan untuk memfotocopy sendiri karena dijual cover terpisah seharga Rp. 5.000,- salah satu kalimat unik yang tidak bakal ditemui di media lain adalah: Silahkan Membajak dan Jika Sudah Beritahu Teman-Teman.
Terbit pertama kali Juni tahun 2000, kini Daging Tumbuh telah secara regular terbit setiap 6 bulan sekali. Edisi ke-8 kali ini memang lebih istimewa karena memuat karya foto copy semua peserta lomba dan covernya disupport oleh Hari Ong Wahyu, seorang perupa sekaligus designer grafis handal bertaraf nasional. Ditanya tentang makna menciptakan Daging Tumbuh, Eko Nugroho bercerita bahwa Daging Tumbuh itu Galeri yang bisa dibawa-bawa dan bisa berpindah-pindah. Ketika dibuka di WC, galeri menjadi di WC.
Melalui galeri foto copy, Daging Tumbuh sebenarnya telah pula membebaskan anggapan bahwa karya tidak diterima oleh galeri. Eko Nugroho berani memberikan semangat untuk semua orang supaya tidak takut berkarya karena bersamanya karya tidak pernah akan ditolak.



Kirim Komentar