Tragedi Penyaliban dalam Pop Operet "Sang Raja"
IBARAT SAYUR TANPA GARAM, TUMBU TANPA TUTUP, sebuah tragedi abadi sepanjang masa dipentaskan tanpa adanya improvisasi dan relevansi bagi penonton di zaman yang senantiasa berubah. Demikianlah pementasan pop operet Sang Raja : sebuah tragedi penyaliban, buah karya Sir Jhon De Gautte, digelar di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta selama dua hari berturut-turut, Selasa (10/02) dan Rabu (11/02) yang lalu. Pementasan ini mengangkat tragedi penyaliban Yesus Kristus oleh bangsa Yahudi dan pemerintahan Romawi ... 2000 tahun yang lalu.
Meski didukung oleh nama-nama besar di balik kisah klasik ini, KMK Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Orkestra Jurusan Musik Yogyakarta, Jurusan Teater ISI Yogyakarta, dan Paduan Suara Mahasiswa Atmajaya Yogyakarta, toh pentas dalam rangka ujian akhir Pasca Sarjana Institute Seni Indonesia itu kehilangan kemegahan dan greget-nya pada aura pertunjukan yang digubah oleh sutradara Yoseph Odillo Oendoen.
Dibuka pada pukul 20.00 WIB oleh nada-nada manis dari Orkestra Jurusan ISI pimpinan Budi Ngurah yang berpadu dengan PSM Atma Jaya Yogyakarta, operet ini dimulai dengan percakapan Herodes, Raja Yudea yang memerintahkan pada Zerah untuk membunuh semua anak lelaki di Bethlehem karena ada petunjuk bintang bahwa akan ada raja baru yang lahir. Berbagai karakter muncul sesuai dengan alur tragedi tersebut; tiga raja dari timur, para Farisi hingga dewan Sanhedrin. Hingga pada suatu hari, Yesus dihadapkan pada Pilatus yang menjatuhkan hukuman salib dan diarak sebagai penjahat dengan mahkota duri. Akhir cerita, Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.
Walaupun menggunakan sentilan-sentilan humor dan adaptasi kostum masa kini (baca = jas), tetapi karakterisasi terkesan tidak maksimal. Tokoh Yesus yang menjadi sentral pembicaraan dan tragedi penyaliban tidak berhasil ditampilkan dengan kuat. Bahkan cenderung minor tergeser oleh karakter Pilatus, Nikodemus dan seorang tokoh Farisi. Tetapi kekuatan setting musik dari kondaktor handal Budi Ngurah memberi suasana sendu dan mendukung cerita dari pertunjukan tersebut.
Yoseph yang malam itu bertindak sebagai narator pertunjukan ini telah mendalami seni teater di Asdrafi pada tahun 1979 hingga lulus tahun 1982. Saat ini ia tercatat sebagai pegawai negeri sipil Taman Budaya Kalimantan Barat. Pentas kali adalah ujian akhirnya di ISI jurusan Penyutradaraan.
Dalam pertunjukan berdurasi 1 jam ini, meski penonton tampak memenuhi gedung berkapasitas 300 orang itu, toh tepuk tangan penonton yang sering dilihat sebagai barometer suksesnya pertunjukan tak terdengar mantap. Di akhir pertunjukan, 4 ekor burung merpati putih diterbangkan sebagai pesan cinta dalam kebersamaan dan perdamaian seperti yang diucapkan oleh Yoseph Odillo di beberapa menit terakhir sebelum pertunjukan usai.



Kirim Komentar