Ragam Pemaknaan Foto Bagi Penikmat Dalam "Membaca Foto, Membaca Apa?"

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

DISKUSI-DISKUSI FOTOGRAFI SELAMA INI BERKUTAT PADA CARA-CARA MEMBACA FOTO yang dengan sedemikian rupa selalu didasari pada tujuan untuk menjadikannya segampang membaca teks. Teori-teori yang membahas tentang bahasa visual fotografi telah memuaskan dengan memberikan penjelasan tentang bagaimana tanda-tanda fotografi tersebut bekerja. Hal tersebut diungkapkan oleh Akiq AW pembicara dari Mess 56 yang didampingi oleh Kasan UFO UGM dalam sarasehan bertajuk "Membaca Foto, Membaca Apa?" di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Kamis (12/02) malam. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Club Fotografi (FKCF) Perguruan Tinggi se-DIY yang terdiri atas 10 klub.

"Namun sampai sekarang, sebagian besar dari kita (para forografer muda) tidak juga cukup mengerti yang terjadi ketika sebuah foto itu dikonsumsi (dilihat dan dibaca) khususnya dalam konteks reproduksi makna?," kata Akiq kepada GudegNet. Ia mengatakan bahwa hal tersebut menjadi penting ketika para fotografer atau setidaknya pengguna teknologi fotografi yang secara sengaja telah memproduksi sebuah karya foto. "Kita selalu dihantui kebermaknaan ini, karena sebuah foto harus bermakna atukah sebuah foto sudah bermakna sejak awal," tuturnya.

Akiq sendiri mengambil contoh kasus foto Sukma Ayu dan B`jah tentang foto bugil mereka maupun artis lain yang sempat dipublikasikan di internet, masyarakat sempat heboh dan menganggapnya sebagai hal yang perlu diperhatikan. Namun ketika foto Sukma Ayu muncul yang disertai dengan analisis dari Roy Suryo, seorang pakar multimedia di televisi, foto-foto tersebut tidak lagi sekedar bermakna just another dirty pic on the web, namun menjadi spekulasi-spekulasi tentang hubungan tokoh utama, moralitas, seksualitas artis, kecanggihan teknologi, kecerdasan pakar multimedia hingga domain public-private.

"Menyimak kasus foto Sukma itu, kita dapat melihat bagaimana sebuah kebenaran asumsi-asumsi tentang kebermaknaan foto bersangkutan dipertarungkan," terang Akiq. Persoalan membaca bagi Akiq merupakan persoalan mencari makna dan relasi antara pelaku dengan peristiwa. Dengan diintari oleh puluhan mahasiswa dalam sarasehan tersebut, diskusi menjadi semakin hidup dan memaksa pertanyaan para pecinta fotografi dibagi dalam beberapa sesi. "Jadi silahkan saja terus bingung membaca foto jika tanpa adanya keinginan untuk membuat aturan main, membuat sistem yang mampu menjembatani kepentingan semua pihak," tambahnya.

Pada saat ditemui GudegNet, Koordinator Pameran dan Diskusi, Syafrial Lukman mengatakan bahwa fotografi bisa digali dengan diskusi atau mengemukakan argumentasi. "Kita tidak cari pembenaran tapi lebih pada alternatif-alternatif pemaknaan tentang foto. Selama ini masih banyak foto yang tidak sesuai dengan pemaknaan yang diinginkan oleh sang fotografer kepada penikmatnya," imbuhnya. Lukman menambahkan, menjadi suatu kewajaran jika terjadi pemaknaan yang berbeda dan mencari tahu sisi mana saja yang lain sama sekali.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini