Sultan Himbau Orang Tua Tingkatkan Pengetahuan Demam Berdarah
JUMLAH KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (BDD) DI YOGYAKARTA dari awal Januari hingga pertengahan Februari (16/02) mencapai angka 152 kasus dengan jumlah penderita yang meninggal sebanyak 7 orang. Bulan Februari 2004, dari data 18 Puskesmas Kota Yogyakarta terdapat 17 kasus dengan 1 orang meninggal di wilayah Gondokusuman. Kepala Dinas Kesehatan Yogyakarta, Dr Choirul Anwar, kepada wartawan Kamis (19/2) siang mengatakan bahwa berkerjasama dengan Kabupaten Sleman mengadakan fogging untuk memutuskan rantai hidup nyamuk dewas untuk bertelur.
Menurut rencana, Dinas Kesehatan Sleman akan mendatangi warga Desa Cepit Depok Sleman akan dilakukan penyemprotan pada Jumat (20/2) esok hari 04.30 WIB. Walau sudah dilakukan pemberitahuan kepada warga, masyarakat baru mengetahui secara pasti pada Kamis (19/2) malam hari.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat ditemui wartawan di sela-sela Kongres Anak Indonesia (KAI) IV mengemukakan, setiap tahun dengan musim semacam ini pasti akan terjadi sehingga setiap propinsi sudah terdapat tim yang sifatnya permanen yang menangani penyakit ataupun mungkin wabah yang menjalar pada saat itu. "Jadi sebetulnya nggak ada masalah dalam arti setiap musim begini rumah sakit sudah siap, sudah tahu pasti akan ada demam berdarah," tukasnya.
Mengomentari terjadinya pelonjakan jumlah penderita, Sultan mengakui terjadi pelonjakan penderita namun sekarang masalahnya masyarakat sering tidak paham dan dianggap sebagai panas biasa. "Tapi dia tidak memahami bahwa itu sebenarnya adalah demam berdarah karena mungkin dia tidak ngecek ada bintik-bintik merah dan sebagainya," imbuhnya. Bagi Gubernur DIY, sebagian besar faktanya keterlambatan membawa penderita sehingga penanganan oleh rumah sakit menjadi terlambat.
"Keterlambatan itu juga disebabkan oleh pengetahuan orang tua sendiri mengenai ciri-ciri dan penanganan pertama pada penderita DB," terangnya. Sultan juga sudah memerintahkan kepada para jajarannya untuk terus melakukan penyuluhan dan fogging yang lebih merata. "Kalau pengobatan dan penanganan lainnya itu sudah rutin, dan setiap tahun itu ada kok mulai dari musti di infus, minum susu sebanyak-banyaknya, ya seperti itu yang terjadi. Tapi kalau begitu terlambat, nah ini masalah orang tua," tukasnya.
Walau Yogyakarta masuk dalam urutan kedua setelah DKI Jakarta dalam urutan jumlah penderita DBD di Indonesia, Sultan mengungkapkan bahwa Yogyakarta belum termasuk kejadian yang luar biasa (KLB). Ia menambahkan sudah dilakukan kegiatan klasifikasi pada daerah yang masuk dalam kategori rawan DB, tentunya relatif sangat berbeda jauh dengan kondisi Jakarta.



Kirim Komentar