Enam Performer Perdana Tampil pada "Wed Act" KKF

Oleh : Aqidah / Senin, 00 0000 00:00

6 ORANG : RONALD, ANTOK, UCOK SIREGAR, GRUP SUKU KUPING LEBAR, SADAR LAUPE DAN HAMZRUT dipercaya menggelar karya seni mereka dalam performance art bertajuk "Wed Act" di Lantai 2 Kedai Kebun Forum (KKF) Rabu (18/02) malam yang tampak dipadati oleh para penikmat seni. Ruang yang disediakan oleh KKF terlihat penuh oleh puluhan orang hanya untuk melihat performance art mereka yang menurut rencana akan selalu diadakan hari Rabu tiap bulannya. Walau mundur dari jadwal panitia, penonton tetap setia menunggu dan tidak beranjak dari tempatnya hingga acara usai.

Keenam orang tersebut tampil dalam beberapa sesi dengan lama durasi 15 menit menyajikan tema khusus seputar politik dan pemilu. Lepasnya Akbar Tanjung dari jeratan hukum setelah dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung (MA) Indonesia tak luput dari perhatian para seniman ini. Diakhir acara terdapat penampilan spontanitas oleh I-Bob dari Serikat Pengamen Indonesia (SPI).

Pada penampilan pertama oleh Ronald dan Antok dengan judul Rembug hanya menggunakan dua lampu teplok dan membacakan puisi tentang keadaan bangsa dari jendela dengan membuang muka ke luar. Ucok Siregar pada sesi kedua yang merupakan aktivis mahasiswa Institut Seni Indoneia (ISI) membagikan permen loli-pop kepada penonton untuk dimakan. Selang beberapa menit, para penonton yang sedang menikmati pemberian Ucok mendadak ditutupi dengan kresek hitam dan menyetel setting audio perjalanan KA dari Yogyakarta sampai Jakarta. "Silahkan bermain-main dengan kantong plastik itu dan rasakan udara panas di kepala serta nikmati sensasi panas dan manisnya," tukasnya.

"Menolak Calon Presiden Busuk" dengan properti meja-kursi yang memperlihatkan kondisi seorang presiden sedang minum santai oleh Group Suku Kuping Lebar. Komunitas yang terdiri dari 8 orang tersebut menunjuukan situasi dialog di waktu senggang antara rakyat dan presidennya. Dialog tersebut menyudutkan `wong cilik` sehingga tidak mendapatkan kemakmuran dan kelimpahan negerinya. Juga terlihat bagaimana para elit politik menikmati dan merampok kekayaan secara sepihak sehingga timbul perlawanan dari rakyat yang digambarkan dengan mengikat presiden tersebut pada kursi dan meja.

Sadat Laupe yang Grafis berasal Makassar dengan tajuk "The Laboratory" menggambarkan Pemilu sebagai ajang coba-coba atau laboratorium para politisi. Sang tokoh yang dimainkan Sadat sebagai profesor memunculkan dua teori, masing-masing teori bentuk dan warna serta teori bunyi. Teori pertama digambarkan dalam aneka warna balon yang kemudian diletuskan dengan api sehingga terdengar bunyi yang beragam. Untuk terori bunyi melihat dari keras-pelannya suara yang membedakan vocal tidaknya partai dalam Pemilu. Sedangkan Hamzrut menceritakan tentang maling kecil yang mendapat ganjaran yang lebih besar daripada white colour crime yang tidak tersentuh hukum.

I-Bob dalam penampilan spontanitas berusaha mengatakan tugas masyarakat sebagai pendesah dalam interfensi Pemilu. "Yang tadinya hangat seperti kita pakai baju satu per satu lepas hingga hanya terasa dingin yang mencekam," ungkapnya sembari melepaskan sweater, kaos hingga overall dan menyisakan celana dalam. Kemudian masuk dalam karung goni dan melakukan orasi politik yang mengatakan bahwa maling kecil tidak dilindungi sedangkan maling besar malah dihindari.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini