Dekonstruksi "Home Sweet Home" atas Angkernya Seni Rupa

Oleh : Argo Jatmiko Mulyo / Senin, 00 0000 00:00

DUA SENIMAN PERANCIS : EVA JOSPIN DAN PIERRE THORETTON DENGAN SANGAT ENTENG memajang karya-karya instalasi mereka dalam pameran seni rupa "Home Sweet Home" selama 17 hari (18/02 - 05/03) di Galeri Kedai Kebun Forum Yogyakarta. Pameran yang dibuka hari Rabu (18/02) malam pukul 19.30 WIB oleh pemilik Kedai Kebun Forum Agung Kurniawan tersebut banyak dihadiri seniman-seniman Yogya dan luar negeri.

Dalam pameran "Home Sweet Home", pasangan suami istri tersebut menggelar karya mereka tanpa menggunakan panduan secarik kertas pun yang menerangkan karya-karya yang dipajangnya, banyak orang yang berpikiran bahwa Eva dan Pierre sedang main-main dengan seni.

Keduanya secara umum hanya menampilkan pernak-pernik karya yang jika disambung-sambung berupa sebuah gagasan tentang dekonstruksi terhadap keangkeran seni rupa. Boleh jadi pameran mereka cenderung menjadi pameran mengolah pikiran. Mereka mencoba menerobos ruang-ruang pingit yang selama ini menyelubungi kesenian kita. Keduanya sangat percaya bahwa kesenian adalah dunia sehari-hari yang tak berbeda dengan aktivitas-aktivitas biasa.

Eva Jospin dalam pamerannya menampilkan seri karya berjudul "La piece valise", yang termuat dalam empat bagian berbentuk koper dari kayu. Selain meletakkan kanvas, di dalam koper juga terdapat palu dan paku. Karyanya yang lain berjudul "La sculpture retractable", terbuat dari bahan fiberglass yang disambung dengan baut sehingga mudah ditekuk. Karya ini bisa dibentuk menjadi beragam wujud. Terkadang menyerupai gurita, terkadang impresi-impresi manusia, atau bentuk-bentuk lain. Semua perubahan bentuk itu hanya ditampilkan Eva dengan foto-foto yang ia pasang di dinding ruang pameran.

Karya-karya Eva yang lain, seperti "La piece manteau" dan "La piece tentaculaire", juga tetap mengeksplorasi sisi-sisi kepraktisan, sembari tetap mendesakkan ide dasarnya: bahwa karya seni bukan sesuatu yang mesti ditempatkan secara lebih istimewa. Ia mesti diperlakukan sama seperti koper, atau foto-foto di dinding ruang tamu. Selama ini karya seni, seperti lukisan, membawa kerepotan ketika seorang pelukis ingin berpameran ke negeri yang jauh. Karya mesti dipaket secara baik dan mempermaklumkannya kepada petugas imigrasi, jika ingin selamat sampai ke negara tujuan.

Lebih ekstrem lagi Pierre hanya membawa pikirannya datang untuk berpameran. Ia hanya membawa elemen-elemen yang ada dalam kehidupan pribadi rumah di Paris. Bahan-bahan yang dipakai bisa didapat di setiap negara di mana saya berpameran," ujarnya dalam bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan oleh rekannya. Kemudian terciptalah karya yang terbuat dari bahan atap fiber serta coretan-coretan di dinding ruang pameran. Pierre sedang berimajinasi tentang rumahnya yang terdapat gambar dua orang. Ia merespons ruang dengan menciptakan seolah-olah kita sedang berada di sebuah rumah.

Visualisasi seperti ini memang sangat berisiko. Salah-salah para senimannya dicap menggampangkan sesuatu yang harus diletakkan dalam tataran keagungan. Tetapi, memang sejak awal Eva dan Pierre berhasrat melakukan dekonstruksi terhadap nilai-nilai angker dalam kesenian, menjadi sesuatu yang biasa, seperti aktifitas sehari-hari.

Pameran yang juga dihadiri oleh Direktur Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Mellanie, termasuk pameran pembuka agenda Kedai Kebun Forum semester I. Pameran "Home Eweet Home" juga merupakan pameran kedua Eva Jospin dan Pierre Thoretton setelah berpameran di Galeri Lontar Jakarta.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini