PSK Bukan Dicoblos, Tapi Gantian Nyoblos
KOTA YOGYAKARTA SEJAK KAMIS (19/2) SIANG, DISELIMUTI AWAN MENDUNG DAN AKHIRNYA HUJAN DERAS yang tak luput pula mengguyur salah satu daerah, yaitu Sosromenduran atau tepatnya kawasan Pasar Kembang Yogyakarta. Di Balai RW Sosromenduran tersebut, dilakukan sosialisasi sekaligus simulasi Pemilu yang diikuti lebih dari 200 Pekerja Seks Komersial (PSK) dan warga setempat.
Program tersebut dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta dengan menggunakan dana dari kocek mereka masing-masing. Secara sengaja, para anggota KPU Kota Yogyakarta yang berjumlah 5 orang selama dua bulan tidak menggambil dana kehormatan dan nantinya akan digunakan pada sosialisasi pada penyandang cacat, di Lembaga Pemasyarakatan (LP) hingga ke sekolah-sekolah sebagai pemilih pemula.
Suasana sosialisasi dan simulasi semakin semarak ketika Nasrullah SH Anggota KPU Yogyakarta dalam pengantarnya beberapa kali menggunakan kalimat yang `nyrempet` dan membuat masyarakat mengikuti kegiatan tersebut menjadi heboh dan penuh canda-tawa. Mulai 13.00 WIB, balai berbentuk letter L dan tidak memiliki halaman yang luas ditata kotak suara serta bilik yang nantinya akan mirip dengan kondisi ketika dilangsung Pemilu 2004 pada bulan April tepatnya tanggal 5. Tampak hadir pula dalam kegiatan tersebut seperti Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Kapolsek setempat serta Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Yogyakarta yang diwakili oleh Wisnu Handoko serta satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) atau lebih dikenal dengan Hansip sebanyak dua orang.
Tersusun rapi empat buah kotak suara dan dua bilik suara selebar 50cm sedangkan lebar kartu suaranya sendiri lebih lebar 30 cm dari biliknya. "Memang masyarakat nantinya akan kerepotan jika harus melakukan penyoblosan mengingat surat suara lebih lebar dari bilik yang disediakan oleh KPU Pusat. Kita memang sengaja tidak menggantinya karena sudah diatur dalam aturan KPU dan dalam Pemilu nanti tidak mendapatkan protes dari saksi-saksi parpol karena tidak dipasangnya bilik yang resmi," tukasnya. Nasrullah menambahkan, pihaknya akan menyediakan meja yang besar serta diberikan sekat antar bilik agar kerahasiaanya pemilih tetap terjamin hingga masuk kotak suara.
Sebagai Ketua Divisi Hukum dan Hubungan Antara Lembaga KPU Kota Yogyakarta, Nasrullah yang dipercayai sebagai moderator mampu membuat kondisi sosialisasi dan simulasi menjadi santai dan penuh guyonan. Sesekali iang mengatakan yang mayoritas PSK tersebut untuk `membuka dulu sebelum dicoblos`. "Kalau mau dicoblos jangan lupa dibuka dulu ya," ungkapnya disambut tawa sembari PSK mengamati secara seksama membuka dan melipat surat suara. Narsullah juga memberi petunjuk kepada para bapak-bapak yang hadir cara menyoblos yang benar.
"Bapak-bapak gini ya cara nyoblosnya nanti, jangan sampai salah tempat," tukasnya sambil `meringis` seperti memberikan isyarat kepada hadirin dalam konteks yang berbeda. Sosialisasi hanya memakan 10-15 menit yang kemudian dilanjutkan dengan proses simulasi Pemilu untuk menggambarkan kondisi yang akan terjadi sebulan mendatang. KPU Kota Yogyakarta juga meminta bantuan warga sebanyak 6 orang sebagai volunteer yang bertugas sebagai petugas dan saksi-saksi. Mereka secara begiliran memerankan tugas yang berbeda, bahkan juga ada yang pura-pura menjadi penyandang cacat (tuna rungu dan tuna netra) agar tidak canggung ketika ada yang datang untuk memberikan suaranya pada lokasi yang sama dengan para PSK `nongkrong`.
Beberapa orang PSK seperti Wanti, Indah hingga Supartini merasa masih kesulitan memahami Pemilu sekarang. Mereka mengungkapkan mudahnya Pemilu tahun 1999 yang hanya menyoblos lambang parpol. "Sekarang kita harus nyoblos lambangnya dan juga wakil yang, belum tentu juga kita kenal mereka," ucap mereka secara bergantian. Ada pula PSK yang akan pulang kampung untuk memilih dan memberikan hak suara mereka di daerah asal. "Biasanya dicoblos je, sekarang gantian nyoblos," ucap mereka.
Celetukan-celetukan yang nakal terus bermunculan mengiringi simulasi hingga usai. Para PSK dan masyarakat tampak lebih senang karena mereka lebih dekat dan dapat mengetahui secara pasti langkah-langkah yang diperlukan dalam memberikan suara mereka.



Kirim Komentar