Melirik Fenomena Masyarakat Lewat Pameran "Sejajar dalam Rupa"
LIMA PERUPA BERJIWA MUDA MENYATUKAN RASA DAN KARSA UNTUK MENCARI SOLUSI, dengan kritik dan nguda rasa, atas fenomena yang tercipta di tengah kancah kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap insan perupa kemudian mengerahkan seluruh inderanya untuk meluapkan jiwa yang gerah dan haus, menangkap makna dan pesan dalam kehidupan ini yang ditampilkan dalam karya seni. Dalam pameran seni rupa bertajuk "Sejajar Dalam Rupa" di Balai Roepa Tembi II, Jl. Parangtritis Km 8,4 Bantul Yogyakarta, (20/2 - 6/3), hasil pencarian fenomena tersebut ditampilkan dalam seni lukis dan kriya.
Tema ini terasa pas untuk mengekspresikan fenomena di masyarakat saat ini. Bentuk ekspresi tersebut, ditampilkan dalam karya-karya yang dinamis dan bergejolak yang menginspirasikan emosi jiwa dari lima perupa muda ini. Pameran yang dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta I Made Bandem ini, dibuka terlebih dahulu dengan penampilan musik dan lagu "Ambayo", khas suku Kenayan Kalimantan Barat, inisiatif dari salah satu perupa asal Kalimantan.
Karakter sangat berbeda tampak dalam karya-karya yang dibawa lima perupa dalam pameran ini. Seorang Ananta dalam karyanya "Buto Abang Nagih Janji Marang Dewa", tampak membaca goresan yang bergejolak, penuh luapan perasaan yang selalu berapi-api. sehingga mampu mengeksploitasi apa yang ingin diungkapkannya. Berbeda dengan karya Ananta, kali ini M. Nur. Khusen menggelar karya ekspresifnya dengan luapan emosi batiniah melalui "Berzikir".
Fenomena yang sedang terjadi di tengah rasa gundah menyikapi situasi yang cenderung "Kanibalizm" mencoba ditangkap oleh sosok perupa asal Borneo, M. Zaini "Sepi ing pamrih rame ing gawe". Di sini eksistensinya mencoba mengoyak lewat karya yang dipamerkannya. Tidak berbeda dengan Zaini, perupa asal Purbalingga Yayas, juga mencoba mengangkat fenomena masyarakat saat ini yaitu, keprihatinan akan perempuan yang sering tampil `transparan` melalui karyanya "Berpose".
Dalam pameran lima perupa muda ini juga menjadi kesempatan sebagai media pembelajaran sekaligus introspeksi diri baik bagi pelukisnya sendiri maupun masyarakat luas, bagaimana menguji tingkat kekritisan masyarakat terhadap seni, apakah sekedar ikut arus, ataukah mau berpikir kontemplatif terhadap realitas sekeliling. Seni dalam konteks yang luas, termasuk seni rupa, juga membutuhkan ruang-ruang kesadaran, sekaligus pula apresiasi yang sehat agar tidak menyesatkan.



Kirim Komentar