Tahun Baru Jawa : Nyuwun Berkah Saking Ngarso Dalem
SEMAKIN LARUTNYA MALAM DI YOGYAKARTA, BUKAN SEMAKIN SEPINYA AKTIVITAS. Pada malam Tahun Baru Jawa 1 Sura 1937/ 2004 Masehi, jalan di sepanjang beteng dipenuhi orang untuk mengikuti tradisi mubeng beteng yang dilakukan secara turun-temurun. Setelah mengintari jalan-jalan yang dijadikan rute, GudegNet menuju ke Alun-Alun Utara Yogyakarta sebagai tempat beranjaknya tradisi tersebut. Di tengah-tengah alun-alun sendiri terlihat berbagai aktivitas seperti jathilan dari warga Badran dan puluhan anak-anak melakukan tapa bisu `mini` dengan mengintari dua pohon ringin dan jalan batako yang mengintari alun-alun.
Ketika GudegNet melemparkan pandangan ke sudut yang lain, dari kejauhan tampak puluhan warga berkumpul di depan gerbang silih berganti keluar-masuk. Nampak beberapa orang penasaran untuk mendekat dan melihat langsung. Setelah berada di depan persis terlihat ada satu abdi dalem yang duduk bersila tanpa alas menempelkan badannya ke gerbang yang berada di Pagelaran Keraton Yogyakarta menghadap ke utara. Ia tidak menyebutkan namanya, namun yang terdengar lirih adalah ia bertugas untuk menjaga gerbang tersebut hingga prosesi mubeng benteng usai. Umurnya yang sudah usur dikalahkan dengan pengabdiannya kepada Ngarso Dalem begitu besar.
Tepat pukul 23.11 WIB, langit terlihat terang mengantarkan rombongan tapa bisu yang dipimpin oleh lima abdi dalem yang mengusung dua umbul-umbul berwarna hitam dan putih serta sesajen dan perangkat kecil gamelan. Rute yang ditempuh, Alun-Alun Utara-Jln H Agus Salim-Jln Wahid Hasyim-Jln Letjen MT Haryono-Jl Mayjen Sutoyo-Jln Brigjen Katamso-Jln Ibu Ruswo-melalui jalan utara alun-alun dan mengarah ke selatan melewati tengah-tengah pohon ringin dan berhenti di Gerbang Utara Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Putaran melewati rute tersebut tepat satu jam hingga mencapai kembali di Alun-Alun Utara. Masa yang mengikutinya berjumlah ribuan orang terdiri dari orang tua dan muda-mudi baik dari Yogyakarta maupun luar kota hingga turis asing berbagai negara nampak bisu. Kemudian salah satu abdi dalem mengungkapkan bahwa ia dan abdi dalem yang lain akan membantu para warga untuk memanjatkan doa. Lalu semuanya dipersilahkan duduk dan berdoa bersama-sama.
Gong kecil dipukul sebanyak 7 kali menandakan prosesi berdoa sudah dimulai dan masyarakat yang semula berdesak-desakan ingin maju ke depan diam dan terpaku di tempatnya. Abdi dalem tersebut membacakan doa dalam bahasa Sansekerta (Jawa kuno) sesekali mengunakan bahasa krama inggil untuk menerjemahkan bagi masyarakat yang kurang paham maknanya. Doa tersebut ditutup dengan memukul gong sebanyak 7 kali pula. "Sakniki engkang bagi ngalap berkah sumonggo, nangin ampun sok-sokan nggeh," tukas salah satu abdi dalem tersebut.
Himbauan abdi dalem tersebut ternyata tidak dihiraukan dan setelah seluruh masyarakat yang mengikuti doa berdiri mereka saling berebut sejaji dan meraih tangan para abdi dalem untuk meminta berkah dalam satu tahun ke depan. Setelah tampak reda, masih terlihat beberapa simbah memegangi pintu gerbang dan tetap bertahan di tempat tersebut.
Saat ditemui Yu Jumirah (63) asal Yogyakarta yang sehariannya berjualan sayur di pasar Kranggan mengungkapkan bahwa ia tidak akan pergi ke mana-mana hingga matahari terbit. "Kulo pun ket wau teng ngriki saking jam sedhoso (22.00 WIB) nyumun berkah saking Sultan," tandasnya. Kondisinya yang sudah lemah tersebut terpaksa ditemani oleh cucunya bernama Gunadi.
Yu Jumirah ternyata tak sendiri, tampak beberapa orang masih bertahan dan para turis tidak ingin kehilangan momen untuk mengabadikannya dengan kamera yang mereka bawa sebagai oleh-oleh peristiwa budaya dari Yogyakarta.



Kirim Komentar