Dari Perayaan Sekaten (PMPS) Menjadi Jogja Expo Sekaten 2004
GELARAN BUDAYA SEKATEN KINI SEDANG DIRUBAH IMAGE-NYA JADI "Jogja Expo Sekaten" (JES) yang kiranya akan dilangsungkan dari Jumat (26/03) hingga Kamis (1/04) di Alun-Alun Utara Yogyakarta sebagai peristiwa budaya dan religius yang merupakan aikon sekaligus identitas masyarakat Yogyakarta. Padahal, selama ini nama yang digunakan adalah Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) Yogyakarta.
"Penyelenggaraan pasar malam perayaan sekaten tahun ini diupayakan meningkat dibanding perayaan tahun-tahun sebelumnya yang memberi peluang untuk bersinerginya tiga unsur penting yaitu budaya, hiburan dan ekonomi," tukas Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto dalam ramah-tamah dengan wartawan di Gedung PARWI Yogyakarta yang terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara.
Pemancangan pathok tersebut dilakukan secara bergiliran mulai dari Walikota Yogyakarta, Wakil Walikota Yogyakarta Syukri Fadholi, Komandan Kodim Letkol Imam Rohani, GBPH Yudaningrat mewakili pihak Keraton Yogyakarta, DPRD Kota Yogyakarta hingga Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Yogyakarta, Drs Subarkah sekaligus selaku Ketua Panitia Perayaan Pasar Malam Sekaten (PPMS).
Pada even PMPS tahun ini dikemas dalam bentuk Jogja Expo Sekaten (JES) 2004 kerja bareng antara Pemkot Yogyakarta dengan Citra Pamerindo dan harapan mampu menciptakan nuansa baru dan mengangkat Jogja Sekaten merupakan upacara keagamaan Islam tradisional dalam memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi daya tarik dan even pariwisata kota Yogyakarta yang benar-benar bisa dijual.
Kegiatan yang digelar dalam JES 2004 merupakan perpaduan antara perayaan sekaten sebagai titik sentral kegiatan dengan pameran produk-produk unggulan, pesta seni-budaya, aneka lomba dan festival. Paket acara hiburan berupa wahana hiburan anak, tiket masuk dengan hadiah mobil Daihatsu Xenia, pertunjukan akrobat juara dunia dari negeri tirai bambu Cina hingga hiburan dari artis-artis ibukota seperti Element Band, Tamara Blezinsky, Dessy Ratnasari, Mayangsari, Sarah Azhari, Denada, Campursari, Didi Kempot yang tentunya diselingi dengan atraksi hiburan lainnya.
AWAL MULANYA masyarakat yang ingin ngrasuk agama Islam dituntun untuk mengucapkan 2 kalimat shayadad yang kemudian muncul istilah SEKATEN sebagai akibat perubahan pengucapan. Sekaten kemudian berkembang menjadi pesta rakyat tradisional yang terus diselenggarakan setiap tahun dan mejadi tradisi resmi seiring dengan perkembangan sejarah Islam hingga kini.
Sedangkan bagi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, perayaan Sekaten yang terus berkembang dari tahun ke tahun secara rinci terbagi menjadi tiga poin, diantaranya dibunyikannya dua perangkat gamelan Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut kecuali Kamis malam dan Jumat siang. Dua poin lagi sebagai Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW dan pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara gregeg sebagai puncak acara puncak Sekaten.
Drs Subarkah mengungkapkan penyelenggaraan Sekaten tahun ini untuk menumbuhkan peran serta partisipasi aktif masyarakat terhadap pembangunan kota Yogyakarta di berbagai sektor kehidupan. Baginya, mengenalkan nilai-nilai adiluhung yang terkandung dalam perayaan sekaten tersebut merupakan suatu hal yang utama supaya lebih dikenal secara luas dalam tingkat nasional maupun internasional.



Kirim Komentar