Penggambaran Dialog Manusia Lewat Film Tarian
MEMBAYANGKAN FILM DENGAN TARI-TARIAN dalam tema ceritanya, pastilah pikiran kita langsung tertuju pada film drama-drama musikal saja. Namun ternyata diluar itu ternyata masih ada jenis film lain yang benar-benar berupa film tarian atau dance film. Yang membedakan keduanya adalah pada dialog dari para aktor dan akktrisnya. Kalau dalam film drama musikal, terjadi dialog antar pemain untuk menyampaikan isi ceritanya, namun dalam dance film tidak terjadi dialog apapun. Isi cerita disampaikan para pemainnya hanya lewat gerakan-gerakan tarian dan musik yang mengiringinya.
Jenis film yang oleh sineas film Gotot Prakosa dalam "Workshop Sinematografi" dan Putar Film "Wanita Yang Berlari" yang berlangsung hari ini (28/2) di Bentara Budaya, Jl. Suroto 2 Kotabaru, karya seni tersebut digolongkan dalam kategori seni ekperimental ini merupakan kolaborasi dari kareografi dan sinematografi . "Dance film adalah film yang mendokumentasikan performance, dalam hal ini tari-tarian dengan manipulasi angleuntuk menciptakan emosi dalam penggambaran ceritanya," jelasnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh pembicara lainnya, kareografer Cendra Effendy yang mengatakan bahwa dance film merupakan penciptaan bentuk kreasi atau karya seni baru dengan mengkolaborasikan penari dengan sinematografi dan kareografi dengan tiga karakter yang dipunyainya. "Ciri khasnya adalah pada kareografi yang special dalam sebih frame film yang berbeda dari film-film biasanya. Selain itu jenis film ini merupakan film dokumenter dan karya yang dipentaskan di panggung dikerjakan kembali dengan memindah lokasi atau settingnya, misalnya pemindahan space atau angle yang berbeda" papar Cendra.
Sementara dalam hal teknik pembuatannya, menurut sineas film dari Singapura Sherman Ong, lebih rumit dari pembuatan film biasanya. Hal tersebut berhubungan dengan kareografi yang dilakukan dimana tidak semua gerakan tari direkam dengan long shoot. "Dengan story board yang tidak terlalu banyak detail, gerakan tari direkam secara berulang-ulang dengan angle seringkali yang berbeda. Jadi tidak perlu selalu merekam tarian secara keseluruhan. Mungkin sekali kita nanti hanya melihat bagian-bagian tertentu saja dalam framenya, seperti kaki, kepala yang di-close up dan lainnya" jelasnya. Karena itulah skenarionya harus dibuat sejelas-jelasnya untuk tiap-tiap shot. Sementara narasi ceritanya bisa saja digambarkan si pemain lewat tari-tarian yang mereka bawakanm namun tidak menutup kemungkinan penari tidak membuat cerita apapun dari gerak yang ditarikannya.
Hasil dari dance film ini dapat dilihat dari beberapa karya film yang ditampilkan. Sebut saja film "Wanita Yang Berlari" yang dikareografi oleh Cendra dan disutradarai Sherman Ong. Dalam film yang meraih penghargaan di Q Film Festival dan 33rd Internasional Film Festival beberapa waktu lalu, Nungki Kusumastuti, Mira Tedja dan Syagrial menampilkan tarian sinematik yang menggambarkan suatu kebenaran dan keindahan yang mematikan dari dua wanita dan seorang pria dengan jalinan emosi yang substil serta hasrat yang terpendam.
Ceritanya sendiri berkisar pada pertemuan seorang gadis pekerja salon dari etnis Cina kelas bawah dengan penari Jawa dari kalangan ningrat. Dengan latar belakang kultur Jawa yang mendominasi keseluruhan cerita, dua perempuan tersebut mencoba mengaspirasikan hidupnya dengan berbagai resiko hidup yang harus dihadapi di jaman pemerintahan Soeharto.



Kirim Komentar