Ghendu-gendhu Rasa untuk Maknai Hidup

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

Rasane ghendu-ghendu rasa
Gunenam karo kancane dhewek
Ora ninggal tata krama
Iku dadi sangune pasrawungan


Setiap pribadi itu tidak sendiri, selalu ada orang lain menemani. Ada orang lain yang selalu bersedia menampung keluh-kesah, gerundelan, dan berbagai "curhat" yang ingin diungkapkan. Intinya, bersenang-senanglah, karena setiap kesalahan sekalipun, selalu memiliki kesempatan untuk dipahami, dan tentunya diperbaiki. Begitulah kira-kira makna dari tembang Banyumasan di atas yang didendangkan oleh para sinden dalam pentas "Sloga Gendhu-gendhu Rasa" di Bentara Budaya, Jl. Suroto 2 Kotabaru semalam (29/2) dalam rangkaian acara 68 tahun kiprah NH. Dini di dunia sastra kita.

Pentas yang mengambil tajuk "Triloka" yang dimaknai sebagai niat, karep,tekad mantep merupakan teks pada pendekatan psikologis yang organis dari kegairahan yang bertumpu pada kekuatan hati dari diri manusia, dan bukannya pada pendekatan kemampuan teknis-mekanis yang sering disalahartikan menjadi bibit, bebet dan bobot yang sering membingungkan. "Triloka" yang dikomposeri Supriyadi dengan 14 anggotanya merupakan penggambaran sebuah usaha manusia untuk mencapai cita-citanya menerapkan Triloka secara manunggal yang niscaya akan tercapai bila dilakukan lewat dalam dialog dan komunikasi diantara manusia. Dialog tersebut menjadi penting karena merupakan cermin keterbukaan untuk saling memberi dan menerima serta mempertukarkan ungkapan isi hati diantara mereka.

Lewat nyanyian sinden yang didendangkan di panggung luar, dialog Banyumasan yang disebut gendhu-gendhu rasa atau dopokan yang penuh omong kosong tersebut kadang mereka lantunkan dengan suara riang dan bahagia. Namun di lain waktu dilantunkan dengan penuh kemarahan dengan arah pembicaraan yang tidak berjuntrung dan tidak jelas siapa yang memulai terlebih dahulu.

Kebebasan dalam berdialog untuk mengungkapkan isi tersebut bagi para penyaji justru menarik dan mempunyai daya tarik tersendiri karena sifat tanpa ikatan, tata krama dan improvisasi yang mereka lakukan menggambarkan diri mereka apa adanya. Diiringi instrumen gagrak anyar dan alat musik slompret, lodhong serta gambang, lirik-lirik yang didendangkan terasa semarak dan membuat kita merasa tetap optimis dan tidak berputus asa dalam membangun hidup.

Sementara pada pertunjukan kedua yang dipentaskan di dalam ruang Bentara Budaya yang bertemakan "Trisula" yang bermakna eling, ngelingi, ngemuti menggambarkan sebuah konsep hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa dimana ada sikap kepasrahan bahwa manusia adalah fana. Karena itulah manusia harus ngelingi terhadap sesama, lingkungan dan alam kehidupan ini. Kita juga harus ngemuti pada jasa orang tua yang telah menghadirkan kita di dunia ini.

Berbeda dengan pentas "Triloka", dalam pentas " Trisula" ini musik didendangkan secara akustik dengan gerak tarian minimalis yang menggambarkan babak hidup manusia dari kecil hingga masa tua yang menyisakan kesendiarian. Karena rentang waktu itulah manusia harus selalu eling untuk tetap bersatu dengan Sang Pencipta.

Kanthi mawa asal-usul
Asal Kaluhuran nenggih
Saka papan sangkan paran
Kang tan bisa den ngerteni
Nyarengi lajer lan wadhah
Gathuk gapyuk campuh siji

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini