Luruskankan Sejarah dengan Catatan Harian Soegijo

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

SEBUAH CATATAN HARIAN TERNYATA DAPAT DIGUNAKAN sebagai bantuan pelurusan sejarah sebuah bangsa yang gelap atau yang digelapkan. Itulah yang terjadi pada catatan harian Mgr. A Soegijapranata, SJ. Lewat goresan-goresan tangan dalam catatan hariannya yang berbahasa Jawa dan Belanda, sejarah Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang simpang siur hingga saat ini dapat sedikit banyak kembali diluruskan.

Tulisan yang dibuatnya selama menjadi uskup di Pasturan Semarang dan Yogyakarta pada masa peperangan melawan Belanda pada tahun 40-an kemudian ditulis ulang dan diterjemahkan oleh G. Budi Subanar, SJ dalam bukunya yang berjudul "Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang", dan didiskusikan kemarin (29/2)di Bentara Budaya, Jl Suroto 2 Kotabaru Yogyakarta. Pembicara yang hadir antara lain Sri Sultan HB X yang diwakili GPH Prabukusumo dan sejarawan Prof. Dr. PJ Soewarno.

Menurut Budi Subanar, buku yang diterbitkan Galang Press tersebut dia tulis ulang karena dirinya ingin menambah kejelasan informasi mengenai sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang sampai sekarang masih diperdebatkan. "Dari catatan harian Soegija yang merupakan saksi sejarah itu sendiri, saya ingin meyakinkan masyarakat tentang si penggagas sebenarnya dari SO 1 Maret, yakni Sri Sultan HB IX dan bukannya Suharto," jelasnya.

Hal tersebut coba dibuktikannya lewat catatan Soegija pada 4 Januari 1949 yang menyebutkan bahwa pada saat itu Sri Sultan HB IX ternyata mempunyai rencana untuk melakukan gerilya melawan Belanda yang telah menduduki Yogyakarta. Di dalam catatan tersebut juga menyebutkan tentang suasana ketakutan masyarakat Yogyakarta karena adanya penembakan, penangkapan dan penahanan Belanda yang melancarkan Agresi Militer keduanya pada Desember 1948 yang berakibat pada pengungsian dan penjarahan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada waktu itu.

Dari catatan harian itu pula, terlihat betapa Soegija begitu mendukung pemerintahan RI yang baru pada waktu itu dimana ibukota Indonesia yang semula di Jakarta berpindah ke Yogyakarta. Solidaritas tersebut ia buktikan dengan memindahkan juga pusat pelayanan umat Katolik dari Semarang ke Yogyakarta. Dengan berani pula, ia bahkan kemudian melontarkan kritikan terhadap kekerasan yang dilakukan para tentara Belanda tersebut dengan menulis surat pembaca ke majalah terbitan Amerika Serikat bersama dengan George Kahin, selain juga menyarankan pada Sultan untuk tetap berada di istana bersama rakyat dan tidak melakukan gerilya.

Dengan demikian menurut pendapatnya tidak semakin membuat Belanda berbuat seenaknya sendiri dalam melakukan kekerasan terhadap rakyat dan memecah belah orang-orang di dalam kraton. "Yang menarik dari catatan Soegija adalah pada penggambarannya terhadap suasana ketakutan rakyat kecil atas kekerasan yang telah dilakukan Belanda saat itu. Hal tersebut berbeda dengan catatan sejarah lainnya yang lebih banyak memaparkan tokoh-tokoh penting perjuangan bangsa kita," papar Budi.

Hal tersebut dibenarkan PJ Soewarno yang mengatakan bahwa catatan-catatan harian Soegijo membuktikan kalau dirinya tidak mendukung segala tindakan Belanda terhadap rakyat Indonesia dengan cara melakukan perlawanan melalui bermacam-macam saluran, baik lewat surat kabar, pidato radio ataupun menguatkan semangat para rohaniwan serta umat Katolik yang datang menghadapnya. “Beliau memberi semangat pada umat Katolik yang bergerak dalam bidang politik dan organisasi keagamaan,” paparnya.

Ditambahkan oleh Sri Sultan HB X, dari catatan harian Soegijo tentang segala hal yang telah dilakukannya untuk negara ini menunjukkan sikap revolusioner yang sangat langka dalam sejarah keuskupan. Hal yang sama juga ditunjukkanya ketika berpidato di pemancar radio Purwosari, Surakarta pada 1 Agustus 1947. “”Ditujukan kepada umat Katolik di Indonesia dan Belanda agar mengupayakan perundingan gencatan senjata demi kehormatan kedua pihak,” jelasnya yang diwakili GPH Prabukusumo.

Dari situ setidaknya telah cukup memberikan keyakinan bagi kita bahwa Soegijo selalu konsisten dalam bersikap membela kepentingan bangsa. Karena itulah Sultan berharap bahwa buku tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi sejarawan dalam upaya merekonstruksi penulisan sejarah bangsa, termasuk didalamnya pelurusan sejarah Serangan Umum 1 Maret yang sekarang ini gelap atau digelapkan.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini