Di Balik Kesuksesan Naif dan Slank di Yogyakarta

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

KONSER "A MILD LIVE ROAD TO PEACE" NAIF DAN SLANK DI YOGYAKARTA menyimpan kisah tersendiri sebagai tambahan catatan buruk sejarah pertunjukan musik di Stadiun Mandala Krida Yogyakarta. Sebelum jebolnya pintu gerbang di gate ke-15 dan 16, didahului dengan aksi lempar batu oleh dua oknum ke ticket box yang berada di depan tangga. Lemparan batu tersebut membuat penonton yang masih antri menjadi berang dan langsung mengejar para pelempar batu tersebut. Dua orang tersebut awalnya ditangkap oleh hansip yang ikut menjaga ketertiban lalu digelandang oleh aparat keamanan menuju dalam gedung yang terletak di bawah stadiun.

Suasana Selasa (2/3) malam di luar stadiun nampak mulai memanas setelah aksi pelemparan tersebut, mendorong niat para penonton yang tidak membeli tiket berusaha masuk lapangan dengan menggedor-gedor pintu atau menembus barikade yang telah disiapkan oleh panitia maupun aparat keamanan.

Penonton yang berjumlah ribuan orang lebih tersebut secara berurutan menembus penjagaan yang akhirnya jebol pada pukul 20.40 WIB. Setelah melihat aksi tersebut, panitia segera memberikan pesan kepada yang berjaga di masing-masing gate untuk membiarkan ribuan massa tersebut mengalir menuju ke dalam stadiun. Pintu gerbang utama yang langsung menembus stadiun juga dibuka lebar. Setelah dibuka massa yang sudah lama menunggu di luar mengalir masuk bergabung dengan penonton yang ada di tengah lapangan sejak konser tersebut dilangsungkan sejak awal.

Konser Naif dan Slank dengan kerjasama antara PT HM Sampoerna Tbk serta Deteksi Production tersebut diwarnai insiden pemukulan dari aparat keamanan dan balasan dari massa yang memaksa untuk masuk. Lama-lama massa yang terus masuk itu membentuk lautan massa di lapangan karena tempat duduk yang ada di sekeliling stadiun sudah dipadati oleh puluhan ribu penonton. Stadiun menjadi padat dan sesak, bahkan menurut pantaun GudegNet, penonton yang masuk melebihi kapasitas yang dimiliki oleh Stadiun Mandala Krida. Terlihat dari atas tribun, penonton bercampur aduk dengan para pedangan yang memasukkan gerobag dagangannnya ke stadiun. Sampai-sampai vokalis Slank, Kaka meminta untuk tetap peace dan jaga keamanan.

Namun masih aja ada penonton yang nekad sehingga pukulan tongkat aparat bertubi-tubi menghujani para penonton yang ugal-ugalan karena tidak mematuhi panitia maupun aparat yang mendukung acara tersebut. Dua pelaku pelemparan batu dan satu orang lagi kedapatan membawa minuman keras digiring petugas menuju Poltabes Yogyakarta untuk diminta keterangan mengenai aksi yang mereka lakukan. Dari pihak keamanan juga terlihat beberapa yang tumbang karena berusaha mempertahankan gerbang agar tidak jebol. Apa daya, massa yang datang menyaksikan tour ini lebih banyak dari kekuatan aparat yang telah disiapkan untuk mengamankan konser.

Juga diruang medis dadakan yang dilalukan oleh PMI cabang Yogyakarta terlihat 18 orang terdata mendapatkan perawatan ditempat tersebut. Dua orang mengalami patah tulang, luka parah (termasuk bocor) sebanyak 10 orang, kena pukul 2 orang dan sisanya mengalami pingsan atau sesak napas. Delapan orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit setempat karena harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter mengenai luka atau kondisi buruk yang menimpa mereka.

Terlihat ketika memasuki pertengahan lagu dari sekian banyak lantunan lagu yang dimainkan Slank, beberapa orang terpaksa ditarik oleh petugas keamanan untuk keluar dari kerumunan tersebut. Rasa pusing, mutah dan terhuyung-huyung karena desakan satu dengan yang lain memaksa mereka untuk merelakan tidak menonton Slank hingga usai karena fisik mereka yang tidak fit lagi.

Memar-memar dan darah berceceran di ruang medis darurat yang disiapkan oleh panitia. Saat GudegNet melihat langsung ke tempat tersebut, beberapa petugas membantu seorang korban yang mengalami pendarahan luar di kepala. Di sisi lain, juga terdapat beberapa penonton kesulitan napas dan sesak tak mampu menghirup udara secara maksimal sehingga harus dibantu dengan tabung oksigen.

Kejadian seperti kesleo maupun lecet juga tak dapat dihindari antara 10.000 massa lebih berusaha saling mendorong dan mendekat untuk melihat tokoh idola mereka. Kondisi yang sudah sedemikian kompleks tersebut memaksa aparat dan panitia memperkecil ruang penjagaan dan tetap waspada di area panggung pementasan. Beberapa penonton yang coba mendekati panggung dikejar aparat yang sekali-kali melemparkan pukulan dengan tongkat kayunya sehingga membuat penonton ketakutan dan lari terbirit-birit menghindari agar tidak jadi sasaran empuk senjata aparat.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini