Ratih Sang dan Landung akan Baca Cerpen Danarto di KKF
DUNIA SASTRA INDONESIA SEMAKIN RAMAI dengan pemunculan penulis-penulis muda, tak terkecuali penulis perempuan seperti Ayu Utami, Dewi Lestari dan Djenar Maesa Ayu-pun ikut meramaikan jagat sastra, sebuah dunia yang dahulu dianggap eksklusivita maskuin oleh beberapa kalangan. Gaya kepenulisan penulis-penulis muda pun sudah keluar dari pakem-pakem yang dahulunya membelenggu. Bandingkan saja karya Pramudya Ananta Toer dan Dewi Lestari. Meski saling memuji, namun karya mereka terkesan "berjarak". Mungkin pula kebebasan ini merupakan stimulus untuk berkarya sesuai dengan perkembangan jaman yang kian modern.
Kongres-kongres sastra tak lagi menjadi hal yang menarik bagi pengarang. Cerpen menjadi hal yang kini banyak disebut sebagai cerpen-cerpen koran. Beberapa tahun lalu diterbitkan pula Jurnal Cerpen Indonesia sebagai barometer cerpen yang berkualitas di negeri ini. Dengan terbitnya jurnal ini diharapkan pula Indonesia kian menghasilkan pengarang yang eksploratif dan bermuatan eksperimentasi.
Perkembangan ini memunculkan banyaknya penerbit berkualitas di kota Yogyakarta pada khususnya. Salah satu penerbit yang mendukung perkembangan dunia sastra (baca= cerita pendek) adalah penerbit Mahatari dan Kedai kebun Forum yang akan menggelar acara "Ratih Sang dan Landung R. Simatupang Baca Cerpen Danarto" esok Sabtu, 6 Maret 2004 pukul 19.00 di Kedai Kebun Forum, Jl. Tirtodipuran Mo 3, Yogyakarta.
Pembacaan cerpen Danarto ini menandai berdirinya penerbit Mahatari yang akan menerbitkan kembali dua buku kumpulan cerpen Danarto "Adam Ma’rifat" dan "Godlob". Acara ini juga merupakan perkenalan pada pembaca bahwa penerbit buku Sastra, Budaya dan Seni. Dua cerpen dari buku Adam Ma’rifat dan Godlob akan dibacakan oleh Landung R. Simatupang, sedang Ratih Sang akan membacakan cerpen berjudul Belimbing yang diambil dari buku kumpulan cerpen “Setangkai Melati di Sayap Jibril”
Kedua cerpen karya Danarto itu penting diterbitkan kembali karena termasuk salah satu puncak kesusastraan Indonesia. Yang oleh Abdul Hadi WM disebut sebagai "angkatan 1970 Sastra Sufi", yang mengambil akar sufisme. Burten Buffel pernah memuji cerpen-cerpen Danarto sebagai karya yang sangat kaya dengan eksperimentasi. Harry Aveling pun mengibaratkan: bila Pramoedya Ananta Toer adalah mata kanan kita maka Danarto adalah mata kiri kita. Lain halnya dengan Subagjo Sastrowardoyo pernah memberikan komentar bahwa cerpen-cerpen yang termuat dalam "Adam Ma’rifat" merupakan dongeng untuk orang dewasa.
Yang jelas, hingga saat ini cerpen-cerpen Danarto tetap memiliki ciri tersendiri yang membedakannya dengan cerpenis-cerpenis lainnya. Menurut Agus Noor, yang real dan non real dalam cerpen Danarto adalah kemampuan untuk melebur, menerobos ruang dan waktu, sehingga sebagai dunia alternatif cerpen-cerpen Danarto membawa kita ke dunia sonya ruri, yang tidak real tapi juga tidak sepenuhnya abstrak.



Kirim Komentar