Komik "No Fun To Hang Around" karya Anton `Engkel` Subiyanto
JAUH DARI PUSAT HIRUK PIKUK KOTA YOGYAKARTA, di tengah-tengah perkampungan Minggiran yang bersih dari atribut-atribut partai politik, lebih dari 50 orang berkumpul menikmati peluncuran dan pameran komik independen "No Fun To Hang Around" karya Anton `Engkel` Subiyanto di halaman rumah Galeri Sanggar Garputala, Jln Minggiran 75 Yogyakarta pada hari Jumat (12/03) malam lalu pukul 20.00 WIB.
Sebenarnya GudegNet datang sangat terlambat, karena acara launching yang sudah usai tersebut hanya berlangsung selama 1 jam. Namun dalam keremangan lampu neon di halaman kediaman P. Wahib, pemilik rumah, belasan orang masih tampak asyik bercengkrama di bawah lebatnya pepohonan dan di dalam ruang pameran, kelompok DJ Cassette "A Black Ribbon" berkutat dengan eksplorasi bunyi dari tape recorder yang telah dimodifikasi menjadi alat disc jockey bagi Hahan, Iyok, dan Krisna. Mereka mengaku baru terbentuk persis hari Kamis (11/03) sebelum acara peluncuran tersebut dan berkesempatan menjadi pengisi bebunyian yang mengiringi selama acara berlangsung.
Acara "No Fun To Hang Around" dimulai pukul 20.00 WIB dengan pementasan teater Pelangi dengan kisah "Ramli" karya Ratih Mustika Dewi (klas 6 SD) yang dibawakan juga oleh anak-anak SD dari kampung Suryowijayan. Disusul spontanitas dari salah satu hadirin, Toni Voluntero yang membawakan kisah teatrikal "Hujan, Kali, dan Sampah Plastik" dengan sangat apik dan sederhana; hanya menggunakan media ember sebagai penutup kepalanya dan payung. Bahkan, sangat kebetulan panggung yang terbuat dari bambu dan gedhek betul-betul dibangun di atas selokan kotor selebar 3 meter di pinggir sanggar. Itulah realitas yang dihadirkan oleh B. Widiarti sebagai Kordinator Acara.
Peluncuran buku komik indie tersebut ditandai dengan pembacaan 3 judul komik karya Engkel oleh Sigit `Teknoshit` yang mengapresiasikan cerita "Tetangga Belkang" menurut interpretasi pribadi. Kemudian dilanjutkan pembacaan komik berjudul "Cinta Taek" oleh BW Purbanegara dan diakhiri dengan judul "Tetangga Samping Kiri Rumah" oleh komikusnya sendiri, Engkel. Setiap pembacaan dipasrahkan kepada masing-masing pembaca sehingga muncul berbagai macam interpretasi ide cerita komik yang bisa jadi sangat berbeda dari konsep pengarang cerita. Namun, hal tersebut tak begitu digubris oleh Engkel yang berdomisili di Suryowijayan MJ 1/438 Yogyakarta 55142.
"No Fun To Hang Around" (2004) merupakan publikasi Engkel yang keempat setelah "Telek Cecak" (2000), "Komik Sak Modare" (2001), dan serial "Leonardus Sukacokli Setiawan Ady Saputro" (2003). Namun total karya komik yang digoreskan Engkel telah lebih dari 30 judul sejak masa SMA (1999) hingga sekarang ketika mendirikan Ice Juice Comic di rumahnya. "Kalau membuat komik, saya nggak pernah pakai sketsa, langsung corat-coret. Sebelumnya ide cerita saya tuangkan dalam bentuk tulisan esai. Setelah membaca buku-buku sebagai sumber inspirasinya," ujar Engkel. Kebanyakan karyanya dipengaruhi oleh komikus Joe Sacco dari Amerika Latin dan Willeisser dari Amerika Serikat. Ia menyukai gaya realis yang ditampilkan sebagai latar, dan figur kartun sebagai ikon manusianya, sembari mencontohkan komik Petualangan Tin Tin. Namun ia mengakui kalau komik masih berdiri sebagai ilustrasi dalam media-media massa; "Ini pasti gara-gara genre komik Indonesia tidak setegas genre komik di Eropa," gusarnya.
Pencarian inspirasi dimulai dari buku-buku karya Pramudya Ananta Toer dan cerpen-cerpen Frans Kappa. Oleh karena itu, dengan jeli, Engkel mengangkat realitas populis dalam masyarakat sekitarnya, menjadikannya sebagai cuplikan dalam ceritanya. Kebanyakan figur yang diangkat adalah tetangganya sendiri. Jelas terlihat pada kelima judul, yaitu Tetangga Belkang, Mas Rommi, Tetangga Samping Kiri Rumah, Den Bagus Alus, dan Tetangga Kontraan. Media komik, yang dituduh `mengganggu` genre sastra, dipilihnya karena dirasa sangat populis dan enak dicerna. Seperti misalnya dalam petunjuk-petunjuk makanan instan yang sering divisualisasikan dalam bentuk komik.
Peluncuran dan pameran komik "No Fun To Hang Around" ini terselenggara atas dukungan Sanggar Garputala Yogyakarta. "Kami memang baru terhitung 2 kali menyelenggarakan acara launching dan pameran karya seni. Akan tetapi kami berani mengidentitaskan diri sebagai fasilitator tempat dan acara untuk teman-teman muda yang berkarya seni secara independen." jelas Andi S.W., koordinator Sanggar Garputala, yang juga aktif berkiprah dalam dunia pantomime tersebut. Komiknya sendiri dilepas Engkel dengan harga Rp 7.000,- selama masa pameran (12-17/03) dan menyusul dengan harga Rp 12.000,- dengan bantuan distribusi Rumah Seni Cemeti dan Ice Juice Comic.



Kirim Komentar