Pementasan "Perhiasan Gelas" Ungkapkan Problematika Psikologis dalam Keluarga
SELF ALIENATION, DALAM PSIKOLOGI, MUNCUL PADA SITUASI KONFLIK dan penuh tekanan dari tuntutan yang berlebihan dan sekaligus dengan standar pelaksanaan yang terbatas. Situasi yang didasarkan pada teori Hegel tersebut, dengan mudah dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga pada situasi keluarga di mana kompleksitas permasalah personal menjadi urusan publik, sehingga kondisi seseorang bakalan masuk dalam dispersonalisasi.
Dengan apik, problematika psikologis di atas diterjemahkan dalam sebuah pertunjukan drama realis "Perhiasan Emas" yang dipentaskan Rabu malam (17/3) pukul 20.00 Wib di Auditorium Teater ISI Yogyakarta, Jl Parangtritis Km 6,5, merupakan pementasan naskah teater karya Tennesse Williams yang diadaptasi oleh Jim-Lim dan Suyatna Anirun dengan sutradara Setya Prayoga dan diproduksi oleh Mata Emprit Production.
Drama realis "Perhiasan Gelas" merupakan sebuah naskah pertunjukan atas sebuah ingatan seorang tokoh Frits yang diperankan oleh Satriyo Adityia L, menceritakan kehidupannya di sebuah lorong lama dengan ibunya, Corrie (Nonoy) dan kakak perempuannya yang bernama Jeane (Euis Shinta Dewi), gadis pemalu, langsing, dan lumpuh. Keluarga ini telah lama ditinggalkan oleh kepala keluarga. Untuk mempertahankan keluarga, Corrie berusaha menjaga anak-anaknya hingga mencapai tingkatan sosial yang tinggi. Sang Ibu mencoba mengajarkan anak perempuannya Jeane ilmu ketik (stenografi) agar suatu saat ia bisa mandiri. Sedangkan anak laki-lakinya Frits selalu diberi nasehat agar menjadi seorang laki-laki sejati.
Namun terjadi perselisihan pendapat dengan Ibu, dan Frits menghancurkan perhiasan gelas milik Jeane. Jeane selalu menyuruh Frits meminta maaf kepada Ibunya yang senantiasa menginginkan Frits untuk menjaga kakak perempuannya dengan membawa ke rumah seorang pemuda dari tempat kerjanya, yaitu Willem (Feri Ludianto). Corrie selalu ingin berusaha menyenangkan anak-anaknya terutama Jeane hal ini dikarenakan Jeane mempunyai sifat pemalu, langsing dan cacat. Pada akhirnya Frits pun mengambil keputusan untuk lari dari rumah.
Pementasan "Perhiasan Gelas" didukung dengan penataan latar oleh Nursuastyo Radityo dengan gaya realis naturalis yang mengambil design interior rumah bangunan kolonial di Jakarta era 1950-an. Upaya kolaborasi dua kreator Setya Prayoga dan Radityo itu menjadikan "Perhiasan Gelas" dalam kenyataan pertunjukan teater merupakan sebuah kerja kreatif dalam rangka tugas akhir mereka yang dilandasi kesungguhan dalam bingkai akademik. Dimeriahkan juga dengan Pameran Perancangan Artistik (15-17/3) di Lobby Jurusan Teater ISI, serta live music Congpik dan Srirejeki sebelum pementasan teater dimulai.



Kirim Komentar