2 Koreografer Surabaya Berpartisipasi Dalam Monday Movement "Tanpa Judul"

Oleh : Aqidah / Senin, 00 0000 00:00

KOREOGRAFI DAN TATAK GERAK YANG KAYA EKSPERIMEN menunjukkan kreativitas yang terus di-explore oleh koreografer-koreografer muda di tanah air Indonesia. Salah satu public space yang cukup akomodatif terhadap perkembangan itu adalah Kedai Kebun Forum yang “memaksa” seniman mengeksplorasi koreografi secara kontekstual. Upaya untuk menumbuhkan seni pertunjukan organik yang dimaksud itu direalisasikan dengan menyelenggarakan Monday Movement sebagai program rutin bulanan. Program ini mendukung seniman muda tari untuk berkarya dan digelar oleh Kedai Kebun Forum bekerjasama dengan Bicaratari dan didukung oleh HMJ ISI pada Senin (22/03) malam, pukul 20.00 WIB yang lalu.

4 Koreografer yang tampil dalam pentas yang bertajuk "Tanpa Judul" ini adalah Deasylina Da Ary, Dian Putri Astuti, Pheterz Zadrak W, Wisnu Aji SW. Tak hanya koreografer dari Yogyakarta yang merespon kegiatan ini, 2 diantara koreografer yang tampil berasal dari Surabaya. Teknik-teknik gerak yang ditampilkan dalam pertunjukan ini cukup berwarna. Kekentalan tari gaya Jawa Timur khususnya Banyuwangi banyak ditampilkan oleh 2 koreografer asal Surabaya yang berpadu dengan tari gaya Yogyakarta dan budaya Papua.

Tampil membuka pertunjukan, Dian yang memiliki latar belakang tari tradisional Jawa Timur, menampilkan sebuah garapan tari tentang kehidupan Gandrung dalam kesehariannya. Bersumber dari tari Banyuwangi, koreografi ini diberinya judul "Roso". Menampilkan 5 orang penari, tarian ini cukup variatif dalam gerakan yang tenang namun tegap. Ekspresi wajah juga semakin membuat tarian ini erotis namun mempesona penikmatnya. Gandrung sendiri dimasudkan sebagai mediator masyarakat untuk berkomunikasi dengan Tuhan walaupun Gandrung sendiri mempunyai posisi pro dan kontra dalam kehidupnya.

Dengan latar belakang tari tradisional Yogyakarta, Wisnu Aji menghadirkan "Kuro Shiro" (hitam putih) yang menggambarkan dua sisi yang berbeda tentang kebaikan dan keburukan. Wisnu bercerita kepada GudegNet seusai pertunjukan bahwa sebenarnya yang hitam tak selalu berkonotasi jahat dan yang putih bisa jadi kotor ketika terkena noda. Wisnu yang menari bersama Ratih ini mengungkapkan bahwa sebaiknya hitam dan putih itu saling mengisi. Hitam dan Putihnya yang ia maksudkan dituangkan kepada gerakan-gerakan tari. Gerakan lembut mengalun yang kontras dengan gerakan akrobatik yang tegas itu menggambarkan keseimbangan kehidupan.

Penataan artistik dan musik pengiring yang paling menawarkan sentuhan modern terdapat dalam koreografi Pheterz dalam "Seradora". Kekuatan tradisi Papua tempat asalnya ini mengisahkan tentang suku Waropen tentang rahasia kehidupan dari bintang fajar (Sapari). Persiapan pentas yang dilakukan hanya dalam 2 minggu itu dikatakannya kepada GudegNet sebelum pertunjukan.

Deasylina yang menutup pertunjukan malam itu mengangkat isu Pemilu di tengah masyarakat dengan potensi tari Jawa Timur yang mengeksplorasi suara dalam koreografi kontemporer yang berjudul "A I U E O". Tarian yang cukup unik itu juga akan dipentaskan ke Solo dan akan mengikuti sebuah Festival di Surabaya.

Dikatakan Drs. Peni Puspito M.Hum, Ketua Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya yang hadir malam itu bahwa program ini sangat berguna untuk menumbuhkan kepercayaan diri para pemula dalam menghadapi pentas. “Di Surabaya, tak ada ruang seperti Kedai Kebun Forum yang sangat peduli pada regenerasi dan mempunyai apresiasi yang baik terhadap karya para pemula,” ujarnya prihatin.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini