Soemadji di Mata Teman-temannya dalam Sambung Seni Yogyakarta
"Penuh dengan rasa terkejut, saya menyambut gembira ketika Soemadji pelukis yang tinggal di Bangkalan pameran tunggal di Sambung Seni Yogyakarta. Soemadji sendiri adalah rekan dan sahabat saya yang patut diacungi jempol, tahun 1959 bersama mendirikan Sanggar Bambu," ucap Soenarto PR Pelukis dan Pendiri Sanggar Bambu. Keterkejutan dan kegembiraan campur aduk jadi satu dalam diri Soenarto. "Betapa tidak, umur tampaknya tidak mejadi hambatan bagi seorang seniman terutama Soemadji untuk menunjukkan eksistensinya dalam kancah seni lukis Indonesia," lanjutnya.
Seiring dengan pameran yang baru saja usai pada 21 Maret yang lalu, Soenarto menimbulkan pertanyaan dalam dirinya mengenai terpanggilnya Soemadji untuk ke Madura dalam kesehariannya sebagai guru hingga tanda cinta dan terima kasih atas Madura. "Mungkin saja bisa semacam ajakan kepada pelukis-pelukis (yang lahir dan dibesarkan di Madura) untuk lebih perpaling ke obyek-obyek alam dan kehidupan Madura yang sesunguhnya memiliki daya tarik besar untuk diangkat di atas kanvas dan diabadikan memasuki dunia seni," tukasnya.
Prof DR H Mahfud MD putera asli Madura yang juga Menteri Pertahanan dan Keamanan RI menyempatkan hadir dalam pameran tunggal di Kasihan Bantul tersebut mengungkapkan bahwa Soemadji tidak hanya hendak sekedar berpameran nanum juga menghadirkan perenungan dan waktu panjang untuk mepersiapkan karya-karya berkualitas. "Tampaknya Soemadji berusaha memperlihatkan kepada kita semua bahwa hingga saat ini dunia melukis masih menjadi pilihan yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupannya," tukas Mahfud.
Pulau Madura yang secara geografis dekat dengan pulau Jawa, tapi memiliki perbedaan dalam banyak hal termasuk budaya dan tatanan kehidupan masyarakat. Ini pun menjadi daya tarik mantan guru yang sudah menjalani karir sebagai seniman sejak 1954 hingga 2003. Karya yang terpajang dalam ruang pameran sebanyak 68 buah banyak mengungkapkan kehidupan dan napas sehari-hari yang dilalui oleh masyarakat Madura.
"Upaya Soemadji untuk memperkenalkan Madura melalui pameran ini patut diacungi jempol karena ia mampu menampilkan Madura tidak hanya melalui kulit luarnya saja, tetapi juga memperlihatkan esensi yang ada di balik alam dan budaya Madura," terangnya. Tidaklah berlebihan jika nama Soemadji kembali diperhitungkan dalam dunia lukis Indonesia.
Ungkapan menggarami Yogyakarta dan menggurihi Madura dihadiahkan kepada Soemadji oleh Purwadmadi Admadiputra yang lebih dekat dikenal sebagai wartawan, pecinta seni budaya bahkan pendidik. "Apabila pameran tunggal di Yogyakarta ini dimaknai sebagai upaya membangun percakapan antarbudaya, itu tidak salah," tambahnya. Meskipun Soemadji tidak memiliki hasrat besar semacam itu, tetapi realitas yang dibawanya secara akademis, tekstual dan juga normatif yang kritis bahkan tajam sekali pun akan kalah bersaing dengan berjalannya waktu. "Jika bicara tentang Soemadji maka bicara karya orang lapangan, bukan karya salon seniman dari studio yang sejuk, bersih dan terasing," tegasnya.
Begitulah Soemadji yang berada di hingar-bingar pesta kembang api seni lukis Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Kemunculannya di Yogyakarta pada bulan Sura sama sekali bukan untuk membuat kejutan melainkan percobaan setia dari seorang yang tangannya belepotan dengan lumpur, badan basah dengan keringat di ladang pengabdian masyarakat melalui jalur kesenian. "Ia bagaikan prajuit pulang membawa kemenangan yang terlalu lantang dibisikkan sekaligus terlalu lirih diteriakkan. Soemadji masih terlalu tahu soal kota Gudeg dan karenanya kita tak terlalu khawatir ia keliru memilih jalan," ungkap Purwadmadi.



Kirim Komentar