Pemutaran "30 Hari Mencari Cinta" di Yogyakarta Heboh Bersama Para Calo
"30 HARI MENCARI CINTA" HADIR DI BIOSKOP YOGYAKARTA dengan mengusung tema populer yang tak jauh dari stereotype remaja perempuan, yaitu permasalahan pacar (laki-laki), bentuk tubuh, kecantikan, pergaulan dan juga iri dengki antara satu dengan yang lainnya. Hal-hal tersebut di atas telah merasuk pada seluruh tataran kehidupan dan tingkat kedewasaan remaja perempuan. Namun, dengan biaya hampir mencapai angka 2 milyar rupiah, film remaja ini mampu mengetengahkan problematika remaja (perempuan) Indonesia era 2004 dengan caranya sendiri yang unik.
Sebenarnya, pemutaran film "30 Hari Mencari Cinta" dilakukan serentak awal tahun 2004, (08/01) tapi kota Yogyakarta memang tidak pernah (lagi) mampu mengiringi premiere tersebut karena keterbatasan bioskop yang representatif dan juga konsisten memutar film, baik bermutu maupun tidak. Hanya ada satu gedung pertunjukan bioskop, yaitu Mataram Theater. Dengan HTM sebesar Rp 7.500 untuk pertunjukan harian kecuali Senin (Rp. 5.000,-), dapat dipastikan setiap pemutaran film terbaru selalu nampak antrian penonton yang cukup panjang. Tak mengherankan pula, para calo gesit bertindak dari ujung tempat parkir paling luar hingga depan pintu masuk ruang pertunjukan, dengan memainkan harga tiket sampai dua kali lipat. Ironisnya, jendela loket hanya dibuka beberapa menit sebelum film siap diputar.
Lepas dari permasalahan bioskop kota Yogyakarta, Rexinema Film patut diakui bahwa bidikan pasar dengan tema-tema remaja dan mistis sangat digemari dan ditunggu-tunggu oleh penikmat film Indonesia. Setelah kesuksesan "Jelangkung" dan sequelnya "Tusuk Jelangkung", film "30 Hari Mencari Cinta" yang dibintangi oleh Dina Olivia (Keke), Nirina Zubir (Gwen), Maria Agnes (Olin) dan Revaldo (Bono) ini menjadi film ketiga mereka dalam 2 tahun terakhir ini.
Cukup produktif dan konsisten, mengingat Rexinema mampu menjaga kualitas dan mutu film mereka. Bagi Upi Avianto, sutradara film ini, "30 Hari Mencari Cinta" adalah debut pertamanya dalam membuat film layar lebar. Sebelumnya ia lebih sering ambil bagian menyutradarai video musik dan iklan. Di Rexinema sendiri, ia lebih dipercaya sebagai penulis skenario untuk program sitkom teve. Terakhir, Upi mengerjakan skenario untuk film "Tusuk Jelangkung". Satu yang khas dan istimewa dari Upi, pengalamannya menulis skenario komedi situasi mampu membuatnya mengaplikasikan unsur drama dan komedi dalam cerita yang panjang. Tak heran, jika penonton pun sering terbahak melihat kelucuan yang diciptakan sepanjang cerita berlangsung.
Keke, Olin dan Gwen yang menjadi tokoh sentral adalah remaja khas metropolitan yang sebenarnya cukup cantik hanya saja bermasalah dengan pasangan. Bukan karena mereka punya pasangan, justru karena mereka jomblo untuk sekian waktu yang lama. Pria satu-satunya yang ada di dekat mereka adalah pria yang sama, Bono (Revaldo) yang dalam film ini kehilangan identitas gendernya, walaupun justru ia berhasil dengan karakter itu. Ketiga gadis itu bersaing setelah komit untuk mendapatkan cowok dalam waktu 30 hari, persaingan ini dipicu oleh suatu kejadian ketika mereka dianggap sebagai lesbian oleh Barbara (Luna Maya), seorang bintang cantik yang selalu dikelilingi cowok-cowok keren.
Konflik yang berkembang dari film ini adalah ketika mereka mulai `hunting` mencari pasangan cowok, menjadi tidak peduli dengan `habitat`-nya (dan teman sekontrakan), dan berubah menjadi sangat egois karena tujuan mendapatkan cowok idaman. Namun, di akhir cerita, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil mendapatkannya. Erik (Vino Bastian) tidak jadian dengan Olin karena gay, Axel (Rionaldo Stockhorst) tidak jadian Gwen karena selain jorok juga tidak bisa menghargai Gwen, Brian (Agastya Kandou) pun tidak juga mendapatkan Keke karena Brian selain playboy juga sex-oriented.
Pesan yang disampaikan film ini hanyalah tentang hubungan manusia dalam romantisme remaja. Mematahkan premis Brian bahwa hubungan emosi dapat lebih kuat jika didukung dengan hubungan fisik, dengan sebuah kenyataan bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tidak menuntut syarat apapun seperti yang diungkapkan oleh Keke di akhir klimaks cerita. Sebagai sebuah hiburan belaka, film pantas untuk diburu walau tidak akan meninggalkan kesan dan pengalaman reflekstif yang mendalam, seperti pada film-film bermutu lainnya.
Selamat menonton !



Kirim Komentar