Sekaten 2004 : 0 Km Sesak dan Kumuh, Berjubel Parkir Kendaraan Bermotor

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

PERUBAHAN IMAGE PASAR MALAM PERAYAAN SEKATEN menjadi Jogja Expo Sekaten (JES) sebagai even tahunan yang dimiliki oleh kota Yogyakarta memang memberi dampak bermacam-macam. Mulai dari penampilan sekatennya sendiri hingga mata pencaharian yang bisa dicari oleh masyarakat yang tinggal disekitar area Alun-Alun Utara Yogyakarta. Selama satu bulan penuh sejak Jumat (26/3) lalu hingga Sabtu (1/5) mendatang hingar-bingar lampu sorot berjumlah tiga yang menembus awan, tontonan menarik hingga jajanan tradisional tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian.

Berjubelnya masyarakat yang datang khusus untuk kegiatan yang jatuh pada bulan April ini tentunya tidak jauh dari penggunaan kendaraan bermotor. Penampungan kendaraan ini tentunya menjadi masukan `tiban` yang terletak di pass-way menuju Alun-Alun Utara, mulai dari Jl H Agus Salim, Jl Ibu Ruswo, Jl Trikora hingga Jl Rotowijayan. Jalan-jalan tersebut pada hari biasa hanya dipadati oleh becak-becak yang berjejal menunggu turis untuk mengisi kursi kosong, sejak JES mulai dari pagi hingga malam hanya dipenuhi oleh motor-motor pengunjung sekaten baru.

Untuk perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta sendiri yang terkenal dengan 0 Km-nya, juga berubah jadi areal parkir. Tempat duduk yang disediakan untuk bersantai dan bersendau gurau serta tamankota dengan segala ketertarikannya tenggelam dari pandangan mata tertutup oleh motor-motor yang berjajar rapi ditinggal oleh pemiliknya. Jl Trikora sendiri dijadikan tempat tongkrong andong karena ditutup dan dijadikan lahan berdagang oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) Musiman. Arus kendaraan dari Jl A Yani dan Jl Malioboro juga menjadi padat tak karuan karena hanya diberi pilihan untuk berbelok ke arah Jl KHA Dahlan dan Jl Senopati.

Parkirnya sendiri juga punya variasi harga karena dikelola oleh masyarakat sendiri. Terlepas ada pungutan khusus atas lahan yang mereka pakai, ongkos untuk menitipkan motor berkisar dari Rp 1.000,- hingga Rp 2.000,- bahkan biaya titip helm juga ada yang diberlakukan. Pilih bayar titipan helm atau tetap dipakai sambil keliling melihat isi JES?

Wahyudi (19) dan Andi (23) yang membantu rekan sekampungya Totok (29) sejak sore hari sudah memasang tali tambang untuk dijadikan batasan parkir karena tidak hanya mereka bertiga saja yang rela berjaga hingga malam menjadi petugas parkir dalam satu bulan. Mereka mengaku, dalam sehari dapat mengambil untuk sebesar Rp 100 ribu hingga 300 ribu sebagai keuntungan bersih untuk tiap orang setelah dipotong biaya macam-macam.

"Wah kalau rokok sama minum es gak usah dihitung mas, lebih murah jatuhnya daripada urunan beli nasi bungkus untuk tiga orang," ucap Andi sesekali mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Tanpa memakai baju kebesaran tunkang parkir berwarna oranye, terdengar sempritan peluit begitu banyak dari tukang parkir yang berdiri hampir ditengah jalan untuk mengarahkan calon pemarkir untuk parkir di lokasi masing-masing.

"Kalau kita nggak gini ya sudah diserobot ama yang lain. Kalau itungannya nekad karena keserempat ya gimana lagi daripada nggak dapat uang. Temen sih temen, tapi kalau udah bicara uang, tiap tukang parkir berlomba-lomba untuk cari motor. Ada juga yang pengennya cuma lewat, tapi karena udah dihadang tukang parkir ya belok juga," tegas Yudi. Ketika ditanya mengenai kepadatan karena parkir liar yang mereka gelar, ketiganya tak terbesit sama sekali karena sudah rutin setahun sekali terjadi. "Gimana kita mau tertib, yang lainnya juga kalau dikasih tahu juga tetep aja ada yang ngeyel. Kalau udah bicara uang kadang susah diatur mas," tukas Totok yang baru saja mendapat order parkir dari rekan lainnya.

Beberapa pengamen jalannan yang biasa nongkrong diperempatan Senopati menyediakan diri untuk membantu menata motor agar rapi dan dapat dikeluarkan dengan mudah oleh petugas parkir ketika empunya kendaraan datang untuk menunggangi kendaraan pribadinya kembali ke rumah dengan segudang tontonan yang ia lihat sepanjang JES dengan karpet merahnya. "Ngamen gak mesti dapet kok, mendhing ikut bantuin markir motor, walau dikit tapi asal dapat untuk makan dan minum udah enak kok daripada seharian tunggu di perempatan hanya dapat sedikit," tutur pengamen yang mengaku namanya Dino dan Deden yang hanya lulusan SD.

Keinginan untuk mendapatkan pemasukan dengan jalan pintas nampaknya sudah menjadi suatu tradisi turun-temurun selain perayaan Sekatennya sendiri. Bagaimana mungkin, jika yang diatur hanya tukang parkirnya sendiri. PKL Musiman juga tidak mengenal tempat, asal ada ruang untuk menggelar dagangannya, ia akan `ndeprok` dan `tunggu ngebrok` walau harus berdampingan dengan andong yang hanya berjarak setengah meter darinya.

Polisi juga terlihat kewalahan melihat carut-marut lalu lintas dan hanya menjaga agar tidak terjadi macet total. Kendaraan selalu diarahkan untuk tetap bergerak walau pelan sekalipun. Inikah harga JES 2004 sekarang ini? Mungkin bisa dijadikan catatan tersendiri oleh Pemerintah Kota Yogyakart dan jajaran pengelola Sekaten untuk penyelenggaraan Sekaten di tahun-tahun mendatang.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini