Apresiasi Kartunis dalam "Jogja Berhati Kartun"
ADA BERMACAM CARA DILAKUKAN ORANG UNTUK BERPENDAPAT atau menggambarkan ide dalam otak dan pikirannya untuk sekedar mengomentari momen PEMILU 2004 yang jatuh Senin depan (05/04). Para kartunis misalnya. Mereka tentu saja menuangkan komentar-komentar yang ada di benaknya lewat karya-karya karikatur. Seperti halnya para kartunis yang tergabung dalam Paguyuban Kartunis Yogya (PAKYO) yang selama tiga hari ini (2/4 - 4/4)menggelar karya karikatur mereka di Griya KR, Jl. Mangkubumi 42 lewat Pameran Kartun “Jogja Berhati Kartun”.
Bersama dengan para kartunis lain yang berasal dari berbagai daerah, seperti Semarang, Sragen, Magelang, Banyumas, Kendal dan lainnya, 250 karya karikatur yang dilombakan surat kabar Harian Merapi tersebut dipamerkan dengan mengambil tema kritik sosial yang terjadi di kota ini seputar permasalahan PEMILU 2004, tata kota, polusi, narkoba, seks bebas, sistem pendidikan, korupsi, pengangguran dan sebagainya.
“Karya karikatur yang dipamerkan merupakan cermin dari kehidupan masyarakat yang sedang terjadi sekarang ini", papar Ketua Paguyuban Kartunis Yogyakarta, Praba Pangripta di sela-sela pameran.
Selain itu, pameran juga merupakan ajang para kartunis untuk bertemu satu dengan yang lain karena selama ini mereka saling mengenal hanya lewat karya-karyanya saja. Diharapkan dari situ mereka dapat terus mengasah ide-ide kreatifnya. Mengenai alasan dipilihnya kartun sebagai penuangan ide dalam pembuatan karya-karya tersebut, dijelaskan Praba karena dunia kartun sifatnya yang populer, general dan mudah dicerna yang bisa dinikmati oleh siapa saja.
Ditambahkan Aspek III Kota Yogyakarta, Dra. Susilawati yang mewakili Walikota Yogyakarta, karikatur yang dipamerkan dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan pendapat suara atau aspirasi masyarakat lewat bahasa gambar para karikaturis.
”Judul pameran karikatur ini tidak saja membantu mendorong para karikarturis peka terhadap sikap-laku individual maupun kelompok di segala lini dan strata dalam merespon problematika dan dinamika kehidupan, demikian pula berguna dalam menentukan sikap guna peningkatan kualitas dan kuantitas kehidupan,” jelasnya secara diplomatis.
Dengan demikian penuangan ide dalam gambar karikatur tersebut menurutnya memang menjadi penting untuk terus dipikirkan oleh para karikaturis. ”Kalau hal tersebut benar-benar kita mampu menampakkannya ke alam wujud, kota Yogyakarta yang entah kapan akan kembali menjadi `ibukota` kebudayaan Indonesia,” jelasnya.



Kirim Komentar