Pameran "Antara Muka Dan Topeng" di Rumah Budaya Tembi

Oleh : Argo Jatmiko Mulyo / Senin, 00 0000 00:00

PEMUNCULAN ORGANISASI-ORGANISASI SENI RUPA DI YOGYAKARTA mulai merebak sejak tahun 1950-an yang berawal dari komunitas-komunitas di Perguruan Tinggi. Salah satu ciri khas produk keluaran komunitas/organisasi tersebut seniman yang memiliki ketrampilan secara teknis dan juga perspektif. Sebut saja "Komunitas Ujung Lontar" yang terdiri dari gabungan pelukis muda yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswi FSR ISI Yogyakarta dan FSR STSI Surakarta ini, Sabtu (3/4) malam pukul 20.00 WIB secara resmi membuka pameran perdana mereka di Balai Roepa Doea Tembi, Jl Parangtritis Km 8,4 Bantul Yogyakarta.

Pameran yang diberi tema "Antara Muka Dan Topeng" ini, merupakan upaya melakukan pembacaan terhadap realitas yang aktual di tahun 2004 dengan wacana politik yang sedang berkembang. Pameran yang melibatkan 9 perupa asal Yogya dan Solo ini, menjadi persinggungan antara wacana seni dan wacana politik, dan seterusnya dikembangkan menjadi obyek garap yang telah dihasratkan Komunitas Ujung Lontar untuk mengawali aktivitas pamerannya.

Pameran yang dihadiri oleh seniman-seniman muda resmi dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta Prof. DR. I Made Bandem yang diwakilkan oleh Sdr. Wayan. Diharapkan, karya-karya dari Komunitas Ujung Lontar dapat membawa warna dalam seni rupa yang berkesinambungan bagi pengamat seni, serta sebagai pertanggungjawaban kepada masyarakat umumnya dan pemerhati seni rupa khususnya. Pameran ini sungguh merupakan kiprah menggembirakan dan perlu dorongan dari senior untuk memacu dalam berkreatifitas dan menghasilkan karya seni sebaik mungkin.

16 karya dari para perupa seperti Erzan Sersan Asik, Itta Ernawati, Arif Ma`ruf, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Yayan Kapten Bumi Heriansyah, Pithut Saputra, Unggul Dwi Cahyo, Whiji Suryanto dan Fanti, mempunyai visi dan misi untuk menjadikan komunitas ini sebagai sarana bertukar informasi antara Yogya dan Solo khususnya serta Indonesia umumnya.

Karya-karya dalam "Antara Muka Dan Topeng" merupakan sebuah penelusuran dalam ruang ketegangan yang mempunyai keinginan untuk mengkonstruksi penyikapan kritis terhadap realitas politik yang dilakukan dengan berbagai pesan yang dititipkan melalui teks rupa. "Tragedi I" karya Yayan Kapten Bumi H, sebagai contoh bentuk ketegangan yang menggambarkan kehancuran ekonomi pada saat tragedi Bom Bali. Karya lainnya seperti "Sekali Merdeka Sudah Itu Terjajah", "Tak Dapat Disentuh", "Menuju Satu Titik" karya Erzan, "Sisi Realitas" karya Tjokorda B yang syarat dengan ketegangan.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini