1,8 Milyar Untuk Target Pendidikan Minimal 12 Tahun
PREDIKAT KOTA PELAJAR KIAN DIGIATKAN OLEH PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA dengan menggalakkan berbagai macam program kerja, misalnya dengan pengembangan Kelas Internasional dan Pendidikan Minimal 12 Tahun. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Dinas dan Pengajaran Kota Yogyakarta, Drs. Sugito, MSi kepada wartawan Selasa (6/4) siang di Kantor Penerangan Informasi Kota Yogyakarta.
Juga terbentuknya Community College yang merupakan hasil kerjasama Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Kota Savannah USA dengan melibatkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) seperti SMKN 4 yang mengkhususkan diri pada pariwisata, SMKN 5 dengan teknologi informasinya dan SMKN 6 lebih pada Boga.
Mengenai pendidikan minimal 12 tahun, telah disiapkan dana khusus sebesar 1,8 milyar yang murni diambilkan dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) berupa beasiswa guna mendukung proses belajar mengajar dan dapat tamat sekolah hingga jenjang SMA. Beasiswa tersebut diberikan pada siswa SD sebanyak 2.166 orang, siswa SMP dengan 1800 orang dan 1.948 orang pada tingkat SMU. Untuk siswa-siswa SLB, beasiswa akan langsung diberikan dari propinsi.
Peningkatan mutu kualitas siswa tentunya tidak lepas dari kondisi atau prasarana dan sarana yang mendukung siswa melakukan interaksi dengan sekolah. Maka dibentuk Badan Akreditasi Sekolah Daerah (BASDA) yang berfungsi untuk melakukan akreditasi baik sekolah negeri maupun swasta. "Ada 9 poin yang dijadikan acuan melakukan akreditasi diantaranya proses belajar-mengajar, sarana dan prasarana yang tersedia, partisipasi masyarakat dan tingkat kelulusan yang dimiliki tiap sekolah," tukasnya.
Bentuk akreditasi tersebut dibagi menjadi tiga tingkat dengan rangking A (nilai 91 ke atas), B (nilai 71-90), C (nilai 56-70) dan D (nilai kurang dari 55) atau tak terakreditasi. Proses akreditasi tahun 2004 sendiri dilakukan pada 100 sekolah dari total 615 sekolah yang masa akreditasinya hampir habis.
Masyarakat di kota Yogyakarta masih percaya pada predikat kota pelajar dengan ukuran semakin tinggi jenjang yang ditempuh semakin tinggi pula tingkat jumlah pesertanya. "Tidak seperti kota-kota lainnya. Biasanya semakin tinggi tingkat pendidikan diikuti dengan semakin rendah jumlah peserta sekolah karena masalah perekonomian, misalnya. Beda dengan Yogyakarta karena 30% lulusan SD dari luar kota melanjutkan pendidikan SMP di Yogyakarta, begitu juga dengan peserta SMU sebanyak 70% dari luar daerah," tandasnya.



Kirim Komentar