Sekaten 2004 : Melirik Wajah Pagi PKL di Pinggiran Sekaten
CUKUP MENARIK MEMPERHATIKAN APA YANG TERJADI DI SEKITARAN JOGJA EXPO SEKATEN 2004 yang terlepas dari segala profesionalitas dan kemegahan even tahunan masyarakat tradisional Yogyakarta tersebut. Bukan berarti apa yang terjadi di luar "benteng" Sekaten tidak profesional dan tidak megah, melainkan kehadiran kenyataan adanya masyarakat kecil menengah ke bawah yang sangat mungkin tidak lagi terangkul dalam momen kebudayaan dan religiusitas Sekaten tersebut. Kali ini, GudegNet mencoba menghadirkan wajah pagi hari para Pedagang Kaki Lima (PKL) di pinggiran Sekaten.
Beberapa kali, GudegNet berputar mengintari "benteng" tersebut untuk melihat kegiatan para PKL yang menempelkan rangkaian dagangannya di triplek batas antara arena JES 2004 di dalam dengan di luar. Sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB, mereka telah bongkar muatan dan menata serapih mungkin pernak-pernik dagangan mereka. Demikianlah aktivitas harian buka tutup dagangan mereka geluti di Alun-Alun Utara tiap harinya selama sebulan penuh, sejak Jumat (26/3) lalu hingga Minggu (2/5) mendatang.
Langkah kaki akhirnya berhenti di sebuah warung makan milik seorang bapak tua yang terletak tidak jauh di sudut pertigaan Jl Trikora. Tampak seorang tukang becak, tukang sapu berseragam oranye yang lahap menyantap sarapan pagi mereka; sambil mengobrol ngalor ngidul. "Wah mas, kalo narik (becak -red) pas acara seperti ini juga ndak tentu dapetnya kok, paling-paling nganter mereka ke tempat parkir yang agak jauh tempatnya. Kemaren saja hanya dapat Rp 20.000 untuk sarapan sekarang dan makan malam nanti," tukas Walidji (35) asal Wonosari.
Keluhan tersebut langsung ditimpali oleh Amin (23) tukang sapu yang mengomentari masalah sampah yang menjadi wilayah operasi kerjanya. "Nek reget yo ora mas, tapi njijikine kui sing marake wegah-wegahan. Tur jenenge golek mangan yo piye meneh," ungkapnya kesal dalam bahasa Jawa Ngoko.
Obrolan ringan menjadi semakin menarik dan melebar pembicaraannya ketika beberapa tukang becak ikut "ngombyongi" setelah mereka selesai numpang mandi di Masjid Kauman Yogyakarta yang letaknya di sebelah barat lokasi Sekaten. Suka-duka selama Sekaten tahun ini muncul dari masing-masing pencari sesuap nasi yang setia untuk memberikan sesuap nasi untuk orang di rumah yang menunggu mereka kumpul bersama di sore hari dan makan bersama.
Saridjan (30), tukang becak yang biasa mangkal di perempatan Kantor Pos Besar memang terlihat lebih cerah daripada rekan-rekannya karena beberapa hari belakangan ia bisa mengantongi uang Rp 50.000 - Rp 100.000 bersih setelah dipotong sewa becak. "Sebetulnya bukan masalah nge-tem di mana tapi parkiran yang penuh di sebelah mana? Minggu wingi aku ngenteni penumpang neng Ibu Ruswo yo ra komanan apa-apa, bar pindah enggon lagi entok," tukas Saridjan.
Komentar yang sama juga muncul dari Wati, penjual pakaian mengenai banyak tidaknya orang yang mampir ke tempatnya. Sembari menunggu pesannya dibuatkan, wanita yang biasanya berjualan di Pasar Beringharjo tersebut menyewa kapling seharga Rp 1,5 juta belum bisa balik modal bahkan setengahnya saja belum sampai. "Kaya terpal, tatakan pakaian sampai sekatnya saya bawa sendiri kok mas," jawabnya ketika ditanya berapa kocek yang harus ia keluarkan untuk bergabung dengan rekan-rekanya dari pasar. Sambil menunjuk ia mengatakan bahwa PKL-PKL yang ada di sini sebagian besar awalnya dari Pasar Rakyat di Jl A Yani tersebut dan mencari titik-titik terang untuk "ngimbuhi weteng".
Sebuah rangkaian percakapan yang sering terjadi di pagi hari, tidak hanya di sudut warung makan saja, bahkan ketika sedang menata dagangannya masing-masing hingga dibawa mandi. Obrolan ini tenyata sebagai bentuk obat kekecewaan diantara tukang maupun pedagang tiap hari dan merasa tidak lengkap jika makan tanpa curhat kejadian sehari semalam sebelumnya.
"Ya gitu itu mas, kalau acaranya dah selesai barangnya masih numpuk, kita obral saja. Yang jelas sesuai dengan harga aslinya saja, gak usah pakai untung kan modal juga kembali. Daripada repot harus bawa ke sana-sini dan habis diongkos transportnya, lebih baik barang kita buang ke pengunjung." ungkap Gito (27) pedagang asal Cilacap.
Menjadi catatan tersendiri tiap tahunnya, para pedagang yang jauh-jauh datang dari luar kota dengan seabrek dagangannya di akhir masa Sekaten mengobral besra-besaran untuk tiap barang agar tidak menjadi beban ketika mereka kembali ke daerah asal. Namun segala kesusahan bakal hilang ketika masa Sekaten tahun depan datang kembali .. di Sekaten 2005.



Kirim Komentar