"Treshold" Hari Pertama Jual 3 Lukisan pada Ong Djien

Oleh : setya hadi nugroho / Senin, 00 0000 00:00

PAMERAN LUKISAN "TRESHOLD" DIBUKA DI GALERI MUSEUM AFFANDI Sabtu (17/04) malam lalu oleh dr Oei Hong Djien yang menampilkan karya enam perupa, yaitu pelukis dan pematung, keseluruhan ada 34 karya. Ke-34 karya itu ditempatkan pada dua ruang terpisah karena space yang kurang memadai di ruang utama pameran. Pada malam pembukaan itu, galeri lukisan Museum Affandi penuh sesak dengan total pengunjung lebih dari 200 orang.

Kuss Indarto, selaku kurator pameran ini tentu saja sumringah, dengan animo penonton yang jauh di luar perkiraan. Pameran ini membawakan sebuah isu dan tema tertentu tentang apa dan mengapa "Treshold", berangkat dari situ, diharapkan penonton mampu menangkap apa yang ingin dikatakan dan dibawakan dari pameran ini. Apresiasi penonton atau khalayak umum pun rasa-rasanya tak bisa diposisikan begitu saja sebagai `sekedar` pengunjung yang mulai tertarik. Namun lebih dari pada itu.

Belum juga berlangsung sehari, bahkan dalam hitungan jam, pameran ini ternyata mengundang minat dr Oei Hong Djien untuk mengkoleksi 3 lukisan yang dipamerkan. Bukan sekedar ia kolektor lukisan dari berbagai pameran, namun juga karena ia mempunyai taste yang cukup baik untuk memilih lukisan yang tidak biasa-biasa saja. Ketiga lukisan itu diantaranya adalah karya Agapetus Agus Kritiandana yang berjudul “Kawan Si Marhaen”, kemudian “Di Pugung-Tanggamus, Anda Ketemu dr. Herman” dan “Marjuki” yang keduanya adalah karya Syahrizal Pahlevi. Padahal pameran ini akan berlangsung hingga 24 April 2004 mendatang, dan mengundang penonton seni secara gratis untuk melihat ke-34 karya yang dipamerkan.

Kebuah kebetulan saja kelima perupa itu adalah “keluaran” Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yaitu Agapetus Agus Kristiandana, Edo Pillu (Edward), Joko Sulistiono, dan Syahrizal Pahlevi. Walaupun hanya Wahyu Gunawan saja yang sampai saat ini masih menimba ilmu di tempat yang sama. Satu dari enam yang lainnya yaitu Redy Rahadian yang lahir di Cianjur tahun 1973 ini justru menimba ilmu di Institute Saint Joseph, Brussels dengan major study-nya Mecanique Garage, kembali ke Indonesia tahuin 1997 dan beberapa kali sempat berpameran di Jakarta. Pameran di Museum Affandi, Yogyakarta ini merupakan pemerannya yang pertama kali di luar Jakarta.

Kuss Indarto, mantan illustrator untuk harian Bernas yang juga “keluaran” Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menuliskan dalam katalog bahwa dirinya sekedar mencoba mencomot kata treshold yang memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, ambang. Pemaknaan ambang bisa diperluas sebagai sebuah situasi yang liminal, mendua, batas antara situasi atau tempat satu menuju situasi atau tempat lain, yang bisa jadi memunculkan nuansa (perbedaan kecil) antara kedua situasi tersebut.

Spirit transisional atau peralihan dari “jagad yang satu” dan “jagad yang lain” menjadi hal yang cukup melekat dalam pemahaman ini. Merunuti perluasan makna tersebut, lalu kata gamang baik hadir dalam pembawaan bawah sadar ataupun terencana akan menyeruak mengikuti. Meski tentu saja gamang, atau ragu-ragu, akan cukup memiliki cercah diferensiasi.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini