Becak Jogja dan Panutan Lingkungan Perkotaan Bagi Kota-Kota Lain
SELAMA TIGA TAHUN BELAKANGAN INI, KOTA YOGYAKARTA MENGUTAK-ATIK BECAK sehingga menjadi lebih ramah dan peduli lingkungan sekitar dan memudahkan para pengemudi becak dalam operasi sehari-hari. Pengembangan ini lebih diutamakan pada becak wisata saja, bukan untuk becak yang sering digunakan mengangkut beban-beban yang berat. Hal ini merupakan salah satu dari serangkaian program kerjasama antara International Council for Local Enviroment Initiatives (ICLEI) dengan Pemerintah Kota Yogyakarta.
Technical Advisor Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL), Restu Novitarini DJ didampingi Kasi Pemantau dan Pemulihan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Yogyakarta, Pieter Lawuasal dalam keterangannya kepada wartawan Senin (19/4) siang bahwa Yogyakarta menjadi kota terdepan diantara anggota Cities for Climate Protection (CCP) di Indonesia (seperti Bogor, Surabaya, Semarang dan Cilegon). "Yogyakarta menjadi panutan empat kota lainnya di Indonesia dalam pelaksanaan atau perencanaan program-program dan memperlihatkan manfaat dari pengurangan emisi karbondioksida," lanjutnya. CCP akan bertambah lima anggota lagi di Indonesia yaitu Bandung, Balikpapan, Denpasar, Pontianak dan Medan.
"Jogja dianggap paling maju dalam melakukan inisiatif mengenai program-program lingkungan hidup terutama Penerangan Jalan Umum (PJU) yang memberi dampak pada hemat baik energi maupun Anggaran Belanja Dan Pendapatan Daerah (APBD)," tukas Novitarini. Pieter yang getol dengan masalah emisi gas buang mengatakan bahwa masalah utama yang dimiliki kota Yogyakarta tentang lingkungan hidup adalah pencemaran udara atau perubahan iklim yang besar. "Kita tidak bisa membatasi pencemaran itu dari Yogyakarta saja tapi harus dilihat secara menyeluruh atau negara," terangnya.
Pieter kembali mengungkapkan bahwa program "Langit Biru" merupakan komitmen Pemkot Yogyakarta melalui Walikota untuk menurunkan tingkat emisi secara bertahap di Yogyakarta. Menyinggung mengenai penataan kembali Malioboro dengan konsep dua arah di Jln Abubakar Ali dan pedestrian pada Jln Malioboro hingga Jln A Yani mendapat perhatian dari ICLEI untuk terus mengeluarkan inisiatif untuk mengurangi kepadatan yang ada. "Emisi di Yogyakarta terbagi dari tingkat yang paling tinggi hingga rendah, yaitu transportasi, rumah tangga sampai industri," tukasnya.
Untuk transportasi, kendaraan niaga mencapai 500 ribu kendaraan dan kendaraan pribadi lebih dari 2500 kendaraan. "Itu belum termasuk kendaraan yang berasal dari luar kota baik orang-orang yang membawa kendaraannya dari daerah asal maupun momen tertentu yang menyesakkan Maliboro seperti musim liburan sekolah. Malioboro menjadi rujukan untuk dilewati baik yang berkepentingan maupun hanya sekedar lewat untuk mengakses jalan protokol yang lain sehingga Malioboro bisa dibilang paling padat emisi," ucapnya kembali.
Novitarini mengungkapkan bahwa becak sejak dulu tidak bikin macet hanya saja peraturan mengenai kendaraan tak bermotor tersebut belum ada. "Ini yang membuat kesan semrawut, juga bisa perilaku para pengemudinya yang tidak mau tahu aturan main di jalan raya. Di master plan mengenai kendaraan tak bermotor sudah digambarkan dan disiapkan jalur khusus sehingga tidak bersinggungan dengan kendaraan bermotor," ungkapnya.
Model becaknya yang baru sejumlah 30 buah tersebut akan diluncurkan bertepatan pada pelaksanaan lokakarya "Kerjasama Regional Dalam Rangka Mendukung Pelaksanaan Kegiatan Lokal Dalam Menghadapi perubahan Iklim Global" pada tanggal 21-23 April 2003 dengan diikuti oleh 40 delegasi pemerintah kota dari Indonesia, Philippina dan Thailand. Becak baru tersebut akan dijadikan sarana transportasi para peserta lokakarya untuk berjalan-jalan ke Malioboro, bahkan Dinas Pariwisata juga akan memberikan sumbangan becak sejumlah 30 buah sebagai becak pariwisata di Yogyakarta.



Kirim Komentar