Mempertahankan Eksistensi Seni Janur dan Rangkai Bunga di Yogyakarta

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

HILANGNYA SENTUHAN DAN PERHATIAN TERHADAP SENI BUDAYA menjadi tantangan tersendiri bagi para pecinta seni dan dari ragam seni yang terus diusahakan pelestariannya, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Parsenibud) Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Mayangsari Indonesia, Karang Taruna Kota Yogyakarta serta Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta menyelenggarakan Workshop Kegiatan Seni dan Budaya di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. "Acara tersebut sudah kita rencanakan dan banyak usulan dari seniman dan budayawan." tukas Kepala Dinas Parsenibud Kota Yogyakarta, Drs F Kaswanto kepada wartawan Selasa (20/4) siang.

Kaswanto menambahkan, program yang dilaksanakan oleh Parsenibud menggandeng organisasi atau kelompok yang lain hendaknya berasal dari `bawah`. "Saya tidak menginginkan program itu dari atas, tapi mereka yang mengusulkan dari dilaksanakan bersama-sama. Untuk kegiatan ini, seni merangkai bunga dan janur sebetulnya sudah cukup lama ada dan sangat menarik tetapi belakangan ini surut dan jarang diadakan kegiatan yang terus melestarikannya," ucapnya.

Melihat masa mendatang, seni ini masih banyak digunakan oleh masyarakat luas, utamanya Yogyakarta dalam melaksanakan hajatan besar. "Misalnya janur kuning yang dipasang di pinggir jalan, orang pasti tahu bahwa ada keluarga yang sedang punya `gawe` untuk menikahkan anaknya," lanjutnya. Janur dijadikan identifikasi sebagai bentuk petunjuk dan mempunyai makna tersendiri baik bagi penyelenggara acara maupun yang hanya sekedar sepintas melihat.

Workshop yang diselenggarakan selama dua hari sejak Selasa (20/4) hingga Rabu (21/4) mendatang tersebut mengulas dua tema besar. "Workshop merangkai bunga dan janur serta manajemen organisasi" dan "Pengalaman dan pengembangan organisasi". Narasumber yang terlibat didalamnya seperti Ir Yuwono Sri Suwito MM, Didik Hadiprayitno SST, KRMT Indro `Kimplik` Suseno, Drs Hajar Parmadhi MA, M Suhud SH, Ign Wahono dan Drs Kuswarsantyo, MHum.

Pada hari kedua, workshop akan banyak mengetengahkan "Promosi & Kerjasama" dan "Kultur Kepemimpinan". Dra Rahayu M Ratih selaku Ketua Panitia workshop mengatakan bahwa penyelenggaraan acara tersebut merupakan salah satu langkah bersama untuk tetap melestarikan seni dan budaya yang dimiliki Kota Yogyakarta, tentunya juga meningkatkan mutu dalam berorganisasi dan kepemimpinannya.

"Untuk manajemen organisasi, lebih pada pengumpulan program dari masing-masing organisasi melalui forum tersebut dan disampaikan kepada kita." terang Kaswanto. Ia menambahkan, bantuan yang diberikan oleh Parsenibud tidak akan berupa uang. "Itu tidak mendidik, kita beri fasilitas atau peralatan pendukung agar mereka bisa mengekspresikan seni budaya dari sudut pandang yang berbeda sehingga muncul warna yang berbeda," ungkapnya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini