Think Globally-Act Locally untuk Yogyakarta Ramah Lingkungan
SELAMA INI, BENSIN UNTUK KOTA YOGYAKARTA DISUPLAI DARI CILACAP, sama halnya dengan kota Bandung. Akan tetapi Ibukota Jakarta mendapat pasokan bensin sebanyak 35% dari Balongan dan sudah tidak mengandung timbal. "Timbal berbahaya bagi kesehatan dan itu tidak jauh berbeda dengan gas yang dihasilkan oleh rumah kaca," ucap Edi Setiono dari US Agency for International Development (USAID) kepada wartawan Rabu (21/4) siang dalam lokakarya "Kerjasama Regional Dalam Rangka Mendukung Pelaksanaan Kegiatan Lokal Dalam Menghadapi Perubahan Iklim Global" di Mecure Phoenix Yogyakarta.
Pengurangan timbal dalam bensin merupakan salah satu upaya perlindungan iklim dan ada sepuluh kota di Indonesia yang tergabung dalam Cities for Climate Protection (CCP), yaitu Bandung, Balikpapan, Denpasar, Pontianak, Medan, Bogor, Surabaya, Semarang dan Cilegon. DR Danang Parikesit mewakili Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM Yogyakarta di hadapan wartawan dengan mengutip kata Direktur Utama International Council for Local Environmental Initiatives (ICLEI), Bob Price, bahwa iklim bukan masalah lokal namun dunia sehingga kita dituntut untuk think globally.
Yogyakarta sebagai tuan rumah pertemuan regional kegiatan perlindungan iklim memusatkan fokus pada efisiensi energi dan upaya sistem transportasi yang ramah lingkungan. "Diharapkan dalam forum ini tidak hanya sekedar tukar informasi, namun lebih jauh pada kerjasama nyata bidang lingkungan hidup di Asia Tenggara," ucap Danang. Bob menambahkan bahwa apa yang dimiliki oleh Yogyakarta nantinya akan dipelajari oleh negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. "Mereka secara spesifik belajar tentang kendaraan tak bermotor yang ramah lingkungan," sambungnya.
Kota Yogyakarta telah memberikan sumbangan nyata dalam memulai kampanye tersebut di Indonesia. Seperti Penerangan Jalan Umum (PJU) diperkirakan telah menghemat listrik 4.278.408 KWH/tahun yang setara dengan pengurangan emisi CO2 sejumlah 3.170 ton/tahun dan menghemat biaya sebesar USD 450.000/tahun.
Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto mengatakan, kampanye tersebut memperlihatkan keterlibatan masyarakat, pemerintah dengan stakeholder. "Sebetulnya dilematis jika dikaitkan antara anggaran yang terbatas dengan kepentingan masyarakat," ucapnya. Bahkan dengan adanya ICLEI, Herry mengungkapkan bahwa konsep yang dimiliki Pemkot bisa menjadi lebih aplikatif. "Ambil contoh motor, Indonesia menjadi pemasok motor dan yang menanggung polusinya, seharusnya negara produsen ikut ambil bagian karena ini merupakan tanggung jawab moral," lanjutnya.
Bob kembali mengulang komitmen ICLEI bahwa pihaknya akan membantu lobi pemerintah lokal dalam membuat kebijakan mengenai lingkungan hidup, mendorong agar program tentang kegiatan iklim dapat berjalan. Bahkan ICLEI juga memberikan dukungan software dalam memantau perubahan-perubahan iklim atau target yang dapat diperhitungankan secara cermat dalam setiap pelaksanaan program yang mengarah pada perubahan iklim.



Kirim Komentar