"Banyumili" Kesenian Rakyat Yang Terus Mili
SEORANG SINDEN PEREMPUAN BERKEBAYA HIJAU TOSKA diiringi alunan gamelan perpaduan musik Jawa Timur dan Bali dari 13 wiyaga serta dua sinden lelaki menyanyikan "Banyumili" dalam Gelaran Musik Banyumili Banyuwangi di halaman Bentara Budaya, Jl. Suroto 2 Kotabaru semalam. Dengan logat Jawa Timur-annya yang khas, syair yang mereka nyanyikan seolah-seolah mengajak pendengar menikmati aliran sebuah sungai atau bahkan menjadi sungai itu sendiri yang selalu mili [Jw. mengalir] tak henti-hentinya sampai di penghujung muara.
Banyu mili we`e panguripan
Banyu mili kanggo kesuburan
Banyu mili nyiram tetanduran
"Musik ini berusaha mengabarkan bahwa hidup adalah sebuah banyu mili (Jw. air yang mengalir) . Seseorang akan menemui suka duka, riang-ria sebuah perjalanan ataupun huru-hara yang berarti perang," jelas Azhar Prasetyo sebagai Ketua Paguyuban Banyumili sekaligus penata tari yang ditemui GudegNet sebelum acara berlangsung. Dengan konsep penetraman spiritualitas lewat syair-syair yang dikomposeri Sahuni tersebut, kaidah dan nasehat akan perenungan dan pertobatan manusia coba mereka sampaikan.
Tidak hanya itu, lewat gerak tubuh para penari dalam "Jejer Gandrung", "Barongan", "Macanan", "Jaran Goyang" dan "Kembang Kemukus", sebuah kesenian rakyat yang pernah ada di masa kerajaan Blambangan pada abad ke-16 dan tak dimiliki oleh daerah lainnya di Jawa Timur ini coba ditampilkan 25-an anggota paguyuban asli Banyuwangi yang merupakan gabungan warga dari berbagai macam pekerjaan seperti nelayan, petani, guru, penjual bakso, pelajar bahkan ibu rumah tangga.
"Di kala Blambangan yang pada waktu itu berkubang darah akibat perang yang terus berkobar baik karena motif perebutan kekuasaan secara internal maupun dari serangan pihak luar, ternyata Blambangan masih banyak memiliki kesenian yang indah dan beragam yang mampu menempatkan dirinya secara elok," papar Azhar yang di Banyuwangi juga menjabat Dewan Kesenian Blambangan. Eloknya lagi, kesenian rakyat yang dimulai sejak 1995 lalu ini pernah memperoleh gelar juara pertama dalam Festival Musik Rakyat di Korea Utara dan Beijing pada Maret 2003 lalu, Festival Musik Rakyat di Denpasar serta Pesta Rakyat Keliling seluruh Jawa Timur pada Juli hingga Agustus tahun lalu.
Tak heran memang bila kesenian ini banyak mendapatkan penghargaan karena keindahan musik dan tari-tarian yang dipertunjukkan banyak mendapat apresiasi positif dari para penonton. Tarian "Jejer Gandrung" misalnya, keindahan gerak dan olah tubuh dari tarian penyambutan tamu atau ucapan selamat datang dari 5 penari wanita, lengkap dengan selendang dan kipas serta kaus kakinya yang menjadi ciri khas ludruk tak kalah cantik dari tari-tarian Bali yang amat terkenal itu. Bahkan dalam beberapa gerakannya memang ada kemiripan dengan tarian Bali pada umumnya. Ditambah lagi alunan komposisi yang menghentak dari berbagai alat musik yang mengiringinya yang memang mirip musik Bali. "Memang sebuah akulturasi seni terjadi karena letak Banyuwangi yang tak jauh dari Bali. Namun kalau diamati lebih jauh akan terlihat berbeda," aku Azhar.
Lain lagi dengan tarian "Barongan" dan "Macanan" yang mirip reog Ponorogo namun dengan gerak ritmik yang agak berbeda. Tidak menyeramkan dan malah mengundang tawa. Ketika dua penari Macanan yang berbalut kostum macan melenggak-lenggokkan tubuhnya, tiba-tiba tanpa disadari menyeruduk ke depan seorang anak kecil yang langsung lari namun tetap dikejar dan kemudian dimasukkannya ke dalam mulut. Walaupun adegan tersebut memang bagian dari cerita, namun tak ayal membuat para penonton terkejut dan tertawa lepas.



Kirim Komentar